JAKARTA - Indonesia memiliki minat baca yang rendah. Dari 25 kabupaten yang ada di Indonesia, delapan di antaranya memiliki minat baca terendah berada di Jawa Timur. Selain itu, padatnya jadwal sekolah juga membuat siswa-siswi tidak memiliki waktu untuk membaca.
"Kalau di sekolah keluhan dari pengelola perpustakaan sekolah memang karena jadwal sekolah yang padat. Seharusnya ada penugasan pada murid untuk membaca buku-buku di sekolah. Itu sudah diamanatkan dalam UU," ungkap Kepala Perpustakaan Nasioal, Dra Sri Sularsih MSi kepada Okezone, belum lama ini.
Faktor mendasar masih rendahnya minat baca masyarakat adalah karena belum adanya kebiasaan. Padahal membaca itu merupakan budaya. Kita perlu memiliki rasa butuh terhadap membaca.
"Itu karena belum dibiasakan dari keluarga. Seperti orangtua yang taat beragaman pasti akan rajin beribadah. Kalau orangtuanya tidak mengajarkan, pasti anaknya tidak akan rajin," ujarnya.
Membaca juga merupakan sebuah kesadaran. Banyak pengetahuan bisa didapatkan karena suka membaca.
"Saya sudah bertemu dengan sejumlah elemen baik dari tokoh nasional maupun internasioal. Mereka adalah orang-orang yang berpengetahuan luas," imbuhnya.
Kebiasaan membaca itu harus dimulai dari kelaurga. Karena kehidupan masyarakat itu bermula dari keluarga. Sehingga semua dimulai dari keluarga.
"Kalau untuk menumbuhkan budaya itu kan dari keluarga harus mengenalkan buku-buku bacaan," paparnya.
Sri menambahkan, untuk bisa meningkatkan minat baca di daerah-daerah, perpusnas sudah mengirimkan perpustakaan masuk desa. Bahkan, perpustakaan masuk desa juga sudah ada di pulau-pulau kecil.
"Tinggal bagaimana kita memberdayakan dan memanfaatkan perpustakaan. Seperti pengelola perpustakaan, tokoh masyarakat, serta lurah, ayo dong ajak untuk menfaatkan perpustakaan, jangan ditumpuk di situ saja," tambahnya. (afr)
(Rifa Nadia Nurfuadah)