Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Diskusi di Peking University: Pendidikan Jadi Kunci Pembangunan Kawasan Transmigrasi

Khafid Mardiyansyah , Jurnalis-Rabu, 14 Oktober 2026 |21:08 WIB
Diskusi di Peking University: Pendidikan Jadi Kunci Pembangunan Kawasan Transmigrasi
Menteri Transmigrasi di Peking University
A
A
A

BEIJING – Pendidikan, peningkatan keterampilan, dan perubahan pola pikir masyarakat menjadi perhatian dalam pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Pembangunan infrastruktur dan masuknya investasi dinilai perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia agar masyarakat dapat memanfaatkan peluang ekonomi secara berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam kuliah umum bertajuk *Industrialisation Beyond Java: Transmigration and Indonesia’s New Growth Centres* di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing, Senin (12/10/2026).

Dalam diskusi bersama akademisi Peking University, Iftitah menekankan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan lahan, infrastruktur, teknologi, dan investasi. Masyarakat juga perlu mendapatkan akses pendidikan dan pendampingan agar mampu mengembangkan keterampilan serta beradaptasi dengan perubahan kebutuhan ekonomi.

Menurut Iftitah, keterbatasan pendidikan dan tenaga kerja terampil merupakan tantangan yang perlu ditangani bersamaan dengan pembangunan fisik. Perubahan pola pikir juga diperlukan agar masyarakat terbuka terhadap pengetahuan dan cara kerja baru.

Ia menilai proses tersebut membutuhkan waktu, pendidikan, keteladanan, serta kesempatan bagi masyarakat untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh.

Pendidikan Tidak Hanya Berlangsung di Ruang Kelas

Pentingnya pendidikan berbasis praktik turut dibahas ketika Profesor Wang Jinjie dari ISSCAD menanyakan peran pertukaran antardesa, pelibatan generasi muda, dan pelatihan masyarakat dalam mendorong pembangunan kawasan.

Menanggapi hal itu, Iftitah menjelaskan bahwa Kementerian Transmigrasi melibatkan profesor, peneliti, dan mahasiswa untuk mendampingi masyarakat di kawasan transmigrasi. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi warga.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah pendampingan masyarakat di Papua dalam mengatasi keterbatasan pupuk untuk pertanian. Melalui pendampingan akademisi, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan kotoran sapi yang diolah menjadi kompos.

Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan akademik dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Persoalan yang dihadapi warga tidak selalu harus diselesaikan dengan teknologi mahal, tetapi dapat diatasi melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia dengan pengetahuan yang tepat.

Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses pembelajaran formal. Pendampingan, pelatihan, percobaan, dan praktik langsung juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan Tim Ekspedisi Patriot, yang melibatkan akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk membantu memetakan serta menyelesaikan persoalan pembangunan di kawasan transmigrasi.

Keterampilan Masyarakat Perlu Terhubung dengan Kebutuhan Industri

Persoalan pengembangan sumber daya manusia juga mengemuka dalam pembahasan mengenai pembangunan kawasan industri dan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat.

Profesor Lei Xiaoyan dari Peking University mempertanyakan bagaimana pengembangan kawasan industri dapat berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan pendidikan anak, pelayanan kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Iftitah menjelaskan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi perlu dilakukan secara terintegrasi. Kehadiran investasi harus diikuti dengan penyediaan fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi penduduk setempat.

Dalam aspek pendidikan, peningkatan keterampilan masyarakat menjadi penting agar warga lokal memiliki kesempatan untuk mengakses pekerjaan yang tercipta dari kegiatan investasi.

Karena itu, pembangunan kawasan tidak cukup hanya mendatangkan perusahaan. Masyarakat juga perlu memperoleh kesempatan belajar dan meningkatkan kompetensi agar tidak tertinggal ketika aktivitas ekonomi berkembang.

Iftitah turut menyinggung pengalaman pengembangan kawasan Barelang, khususnya Rempang, sebagai bagian dari pembahasan mengenai tantangan mempertemukan kepentingan investasi dengan kebutuhan dan hak masyarakat setempat.

Pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, kepastian hak atas tanah, serta keberlanjutan mata pencaharian menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam pembangunan kawasan.

Pengetahuan Praktis untuk Mengembangkan Potensi Daerah

Diskusi di Peking University juga membahas pengembangan komoditas unggulan daerah, termasuk durian dari Sulawesi serta kopi dan hasil pertanian lainnya.

Iftitah menjelaskan bahwa potensi sumber daya alam perlu didukung pengetahuan mengenai proses produksi, pengolahan, penanganan pascapanen, hingga pemasaran. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan nilai ekonominya.

Pengembangan durian untuk pasar Tiongkok, misalnya, membutuhkan konsistensi mutu, volume produksi yang memadai, serta rantai pasok dan logistik yang efisien. Hal ini menunjukkan perlunya keterhubungan antara pengetahuan praktis, pengembangan usaha, dan kebutuhan pasar.

Bagi masyarakat di kawasan transmigrasi, penguatan keterampilan tersebut dapat menjadi bagian dari proses membangun kegiatan ekonomi yang lebih produktif.

Belajar dari Tiongkok, Disesuaikan dengan Kondisi Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Profesor Zhou Yongmei dari ISSCAD menyoroti hubungan antara kebijakan transmigrasi dan pembangunan wilayah. Diskusi turut menyinggung pengalaman Tiongkok dalam mengurangi kemiskinan di tengah jumlah penduduk yang besar.

Iftitah menyampaikan bahwa Indonesia dapat mempelajari pengalaman pembangunan Tiongkok, terutama mengenai keterhubungan pertumbuhan ekonomi dengan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kemampuan masyarakat memanfaatkan peluang.

Namun, penerapan pengalaman tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, dan budaya setiap wilayah di Indonesia.

Bagi Iftitah, transformasi transmigrasi bukan semata-mata berkaitan dengan perpindahan penduduk atau pembangunan kawasan fisik. Upaya tersebut juga menyangkut bagaimana masyarakat memperoleh pengetahuan, keterampilan, pekerjaan, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.

Melalui penguatan pendidikan dan pendampingan masyarakat, kawasan transmigrasi diharapkan tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan industri, tetapi juga ruang bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pembangunan kesejahteraan secara berkelanjutan.
 

(Khafid Mardiyansyah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement