Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Teknologi Kesehatan Didorong Lebih Terjangkau untuk Masyarakat

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Jum'at, 28 Agustus 2026 |13:44 WIB
Teknologi Kesehatan Didorong Lebih Terjangkau untuk Masyarakat
Teknologi Kesehatan Didorong Lebih Terjangkau untuk Masyarakat (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Perkembangan teknologi kesehatan dinilai memiliki peran penting dalam menjawab persoalan pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam BINUS HealthTech Festival 2026 yang digelar BINUS University di BINUS @Anggrek dengan mengusung tema “Navigating Future Health Technology to Support Indonesia Universal Health Coverage (UHC).”

Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, industri kesehatan, tenaga medis, peneliti, akademisi, hingga mahasiswa. Forum tersebut membahas peluang pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat.

Upaya pemerataan layanan kesehatan di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Faktor geografis, ketimpangan akses antarwilayah, distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, peningkatan beban penyakit, hingga persoalan biaya menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Di sisi lain, kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), rekayasa biomedis, serta teknologi kesehatan digital membuka peluang baru. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung diagnosis, membantu pengambilan keputusan klinis, mengembangkan layanan kesehatan jarak jauh, hingga meningkatkan pengelolaan data medis.

Meski demikian, inovasi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian maupun purwarupa. Agar dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, teknologi kesehatan membutuhkan proses validasi, dukungan regulasi, serta penyesuaian dengan kebutuhan tenaga kesehatan dan pengguna layanan.

Layanan Kesehatan

Vice Rector for Research and Technology Transfer BINUS University, Prof. Dr. Juneman Abraham, M.Psi., menilai keberhasilan Universal Health Coverage tidak hanya ditentukan oleh cakupan masyarakat dalam sistem kesehatan.

“Universal Health Coverage tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak masyarakat yang tercakup dalam sistem kesehatan, tetapi juga apakah mereka benar-benar dapat memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas ketika membutuhkannya. BINUS HealthTech Festival hadir untuk mendorong agar inovasi AI, biomedis, dan teknologi kesehatan tidak berhenti sebagai riset, tetapi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata dan terjangkau bagi masyarakat,” ujar Juneman.

BINUS HealthTech Festival 2026 sendiri dikemas dalam sejumlah kegiatan yang saling terintegrasi. Rangkaian tersebut mencakup Youth HealthTech Innovator, Research Short Course in Advanced Medical Informatics, HealthTech R&D Exhibition, Indonesia–UK Research Translation Forum in Health yang digelar bersama British Council dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta BINUS HealthTech Festival Plenary Seminar.

Dalam Plenary Seminar bertajuk “Innovating for Universal Health Coverage: Technology, Policy, and Partnership”, para peserta membahas peran teknologi, kebijakan, serta kemitraan dalam mendukung pemerataan layanan kesehatan.

Forum tersebut turut menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D., serta Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D. Kehadiran perwakilan pemerintah, akademisi, industri, dan klinisi menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dalam pengembangan hingga penerapan teknologi kesehatan.

Dr. Syauqi Abdurrahman Abrori selaku penanggung jawab BINUS HealthTech Festival 2026 mengatakan, pengembangan teknologi kesehatan perlu diarahkan hingga tahap penerapan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

“Visi kami sederhana: riset dan teknologi kesehatan harus sampai ke masyarakat, tidak berhenti di laboratorium. BINUS HealthTech Festival 2026 merupakan upaya kami membangun jembatan interdisipliner dengan merangkul industri, akademisi, pemerintah, dan pihak klinis untuk menghilirkan riset menjadi solusi kesehatan yang relevan dan terjangkau,” jelas Syauqi.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BINUS University dengan sejumlah mitra. Kerja sama dilakukan bersama RSD Gunung Jati Cirebon, RS An-Nisa Tangerang, serta Teknologi Kedokteran ITS untuk mendukung proses pengembangan, validasi, dan implementasi hasil riset di bidang teknologi kesehatan.

Selain forum diskusi, festival juga menghadirkan HealthTech R&D Exhibition dengan tema “Affordable Health Technology Innovations for Inclusive and Sustainable Healthcare”.

Pameran tersebut menampilkan berbagai purwarupa, perangkat, serta hasil penelitian yang dikembangkan BINUS University melalui BINUS HealthTech Advanced Laboratory. Sejumlah institusi pendidikan dan penelitian turut terlibat, di antaranya ITB, UI, ITS, dan BRIN, bersama mitra industri seperti Halodoc, Medimedi, dan GTM.

Principal Investigator BINUS HealthTech Advanced Laboratory, Dr. Nur Afny Catur Andryani, mengatakan aspek keterjangkauan dan kemudahan akses perlu menjadi bagian dari pengembangan teknologi kesehatan.

“Inovasi teknologi kesehatan tidak hanya perlu unggul secara teknologi, tetapi juga mempertimbangkan affordability dan accessibility. Teknologi harus dapat diterapkan termasuk di daerah dengan keterbatasan sumber daya, tanpa mengurangi kualitas layanan,” kata Nur Afny.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement