Share

Sidang Promosi Doktor di UI, Stanislaus Riyanta Angkat Isu Terorisme

Andika Shaputra, Okezone · Selasa 28 Juni 2022 18:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 28 65 2619930 sidang-promosi-doktor-di-ui-stanislaus-riyanta-angkat-isu-terorisme-8AldhZhTef.jpg Sidang promosi doktor di UI/dok pribadi

DEPOK โ€“ Universitas Indonesia promosikan Stanislaus Riyanta menjadi doktor di bidang Ilmu Administrasi dengan disertasinya yang berjudul โ€œModel Tata Kelola Kolaborasi dalam Pencegahan Terorisme di Indonesia.

(Baca juga: Sidang Promosi Doktoral Hasto Kristiyanto di Unhan Diuji Megawati)

Sidang promosi tersebut dihadiri Ketua Kompolnas RI Benny Mamoto, Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia Muhammad AS Hikam, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) Chandra Wijaya dan lain sebagainya.

"Indonesia adalah negara yang belum bebas dari aksi teror. Selama tahun 2000-2021 tercatat terjadi 553 aksi teror di indonesia," kata Stanislaus Selasa (28/6/2022).

Dikatakan dia, sepanjang tahun terakhir ini, aksi teror ternyata belum surut, bahkan cenderung menunjukkan tren pengembangan. Bahkan lebih dari itu, kelompok yang menjalankan praktik-praktik terorisme selalu beradaptasi dengan keadaan yang ada.

"Aksi teror di Indonesia juga terus berkembang dan beradaptasi menyesuaikan keadaan, bahkan aksi teror tersebut melibatkan perempuan dan anak-anak," ujarnya.

Oleh sebab itu, melalui materinya kali ini dia mendorong agar pemerintah membentuk sebuah formula yang tepat untuk mencegah terjadinya aksi-aksi terorisme di dalam negeri.

"Pencegahan terorisme menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh pemerintah, mengingat rentetan aksi teror yang terjadi menimbulkan banyak korban jiwa dan dampak lainnya," tuturnya.

Pengamat intelijen dan keamanan ini berharap agar pemerintah bisa bekerjasama secara aktif dengan semua stakeholder yang ada dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme. Pemahaman dan semangat yang sama dalam mengatasi persoalan terorisme harus benar-benar dilakukan, sehingga dalam praktik kinerja, narasi dan kesamaan berpikir bisa dijalankan dengan baik. Karena terorisme adalah musuh bersama.

Pemerintah dan aparat penegak hukum saat ini memiliki senjata yuridis yang baik, yakni UU Terorisme. "Kita punya UU Nomor 5 tahun 2018, tapi kelompok teror ini tidak melakukan cara kekerasan untuk menggalang masa," terangnya.

Oleh karena itu, ia mendorong agar ada payung hukum yang dapat melengkapi UU terorisme yang saat ini sudah ada, sehingga upaya penanggulangan terorisme bisa semakin maksimal. "Ini membuat saya mengusulkan UU Perlindungan ideologi agar bisa melindungi masyarakat," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini