JAKARTA - Setelah diberitakan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria bahwa 11 siswa dan dua orang guru terjangkit Covid-19, masyakarat mulai khawatir dengan perhelatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Oleh karenanya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menganjurkan agar Pemerintah Provinsi DKI meninjau kembali PTM 100 persen guna mencegah pandemi kluster sekolah.
BACA JUGA: Kasus Covid-19 Varian Omicron Meningkat, Pemkot Bekasi Batalkan PTM 100 Persen
Komisioner KPAI, Retno Listyarti berujar keprihatinannya terkait telah ditutupnya 10 sekolah pasca penerapan PTM 100 persen. Retno prihatin dikarenakan potensi penularan pada siswa, yang notabene anak-anak, rentan tertular dan menularkan virus Covid-19.
"PTM 100 persen dengan kapasitas 100% siswa sangat berpotensi karena bersama-sama berada dalam satu ruangan tertutup selama waktu sekitar 3-5 jam," jelasnya via keterangan tertulis pada Minggu (16/1/2022).
Retno menilai situasi penyebaran Covid-19 yang cepat di kalangan siswa dan guru tersebut sudah terprediksi oleh KPAI. Hal ini menurutnya ditengarai karena masih banyak siswa Sekolah Dasar yang belum mendapatkan vaksin dua dosis lengkap.
BACA JUGA: PPKM Level 2, Kota Bogor Kembali Tunda PTM 100%
"Sebaiknya Pemprov DKI Jakarta mempertimbangkan untuk PTM 50% dahulu sambil menunggu kondisi lebih aman bagi pelaksanaan PTM (100 persen)," tegasnya.
Selain menyarankan PTM 50 persen, Retno mengimbau kepada Pemprov DKI agar mengevaluasi pelaksanaan PTM 100 persen terhitung sejak Tiga Januari kemarin. Berdasarkan pengawasan KPAI, Retno menilai jarak antara satu meja dengan meja yang lain berjarak hanya sekitar 50 cm, tak sampai 100 cm atau 1 meter.
Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terus melakukan pengawasan terhadap sekolah- sekolah yang menggelar Pembelajaran Tatap Muka ( PTM ) 100 persen. Pihaknya telah mempersiapkan sistem pengawasan sejak awal PTM dimulai pada Senin 3 Januari 2022.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti. Sistem tersebut untuk mengetahui apakah ada penularan varian Omicron atau tidak.
"Kami pada saat mulai kebijakan PTM, Dinkes secara aktif menggunakan ACF (Active Chase Finding) sebagai kontrol kita. Jadi kita tidak hanya menunggu sampai sakit jadi ini bentuk perlindungan kepada anak murid kami melakukan ACF kepada sekolah yang sudahdibuka. Apakah terjadi penularan setempat. Angka ACF itu positivity ratenya di bawah 1 persen itu relatif terkendali," ungkap Widyastuti dalam Polemik MNC Trijaya bertajuk 'Bersiap Hadapi Omicron', Sabtu (15/1/2022) kemarin
(Rahman Asmardika)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik