Pendidikan Harus Diarahkan Membangun Daya Kritis Siswa

Neneng Zubaidah, Koran SI · Jum'at 17 September 2021 18:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 624 2472966 pendidikan-harus-diarahkan-membangun-daya-kritis-siswa-DaX6MjGVbD.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menilai pendidikan tidak boleh hanya menjejalkan konten pengetahuan dengan kurikulum yang padat kepada para siswa.

“Pendidikan harus diarahkan justru untuk membangun daya kritis agar siswa mampu membedakan mana informasi yang bermutu, berguna, dan benar,” katanya melalui siaran pers, Jumat (17/9/2021).

Baca Juga:  Remaja Curi Motor di Bekasi Terekam CCTV, Rusak Gembok Pakai Cairan Kimia

Generasi milenial dan generasi Z dianggap sebagai generasi cerdas karena mudah mendapatkan akses informasi yang berlimpah dari internet. “Hanya saja, mereka dikhawatirkan memiliki pandangan yang semakin sempit akibar algoritma eco chamber yang dimiliki sosial media,” tutur Nur Rizal.

Nur Rizal menegaskan, permasalahan anak muda di masa depan tersebut dapat diminimalisir dengan mendapatkan keterampilan kompetensi penalaran dan kesadaran diri serta memperbanyak ruang perjumpaan lintas generasi.

Sehingga, cara pandang dan perilaku generasi muda dapat meluas. Anak muda memiliki kesempatan untuk mengalami proses yang panjang selama induksi pendampingan sehingga mereka belajar untuk lebih sabar dan tidak instan dalam berpikir, bekerja atau berinteraksi.

“Karena tujuan pendidikan seharusnya melibatkan anak muda dengan dunia yang dirasakannya juga dunia di sekelilingnya. Maka anak muda perlu menghormati akan keberagaman dan mengapresiasi akar budayanya sendiri”, tutur Nur Rizal.

Baca Juga:  Disdik DKI: Minggu Ketiga Jika Tak Terjadi Apa-Apa, Sekolah Akan Dibuka Setiap Hari

Sementara itu, untuk menjawab revolusi pendidikan, GSM menyelenggarakan Kelas Sekolah Menyenangkan secara serentak ke 34 provinsi yang terbagi ke dalam 16 kelas secara daring.

Kelas Sekolah Menyenangkan ini diisi oleh sekitar 100 anak muda yang telah dilatih oleh GSM berkolaborasi dengan puluhan guru.

“Harapannya, kolaborasi lintas generasi ini dapat mengundang gerakan dari anak muda agar semakin peduli dan berkontribusi terhadap masa depan bangsanya, serta semakin menggerakkan guru untuk membangun pengembangan praktik bersama agar kompetensi dan profesionalismenya semakin meningkat.” ujarnya.

Kelas massal yang akan diikuti oleh sekitar 2.400 peserta yang telah mendaftarkan diri ini diinisiasi sebagai bentuk kontribusi GSM dalam memperbaiki kualitas guru sebagai urat nadi keberhasilan pendidikan dengan pendekatan baru yang lebih murah, dan inklusif. Dengan menyasar ke guru di seluruh Indonesia, GSM mencoba membantu untuk memperkecil ketimpangan mutu pendidikan yang sangat tinggi.

Setelah kelas selesai, mereka akan diterjunkan menjadi pendamping bagi ribuan peserta dari berbagai daerah tersebut. Hal ini akan melatih anak-anak muda dan guru-guru di usia yang berbeda untuk saling memahami, berempati, bekerjasama, sekaligus melahirkan ide atau keterampilan baru yang berguna bagi siswa di kelasnya.

Bagi guru senior, kelas ini dapat melatih strategi mengajar mereka menggunakan teknologi masa kini sehingga guru-guru akan tanggap dan adaptif dengan revolusi teknologi terkini.

Ketika pertukaran praktik dan metodologi pembelajaran baru ini terjadi kepada ribuan guru dan anak muda dari seluruh provinsi dan secara terus menerus, maka ketertinggalan akan semakin cepat dikejar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini