JAKARTA - Rapat Kelompok Kerja (Pokja) Tata Kelola Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), menganalisis persentase terbesar anak tidak sekolah terdapat pada keluarga dengan penghasilan paling rendah.
"Selain itu juga ditemukan kecenderungan penurunan angka pendaftaran siswa baru di kelas awal, jika dibandingkan tahun lalu," kata Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbang dan Perbukuan), Kemendikbudristek, Suhadi.
Baca juga: Kegiatan Belajar Mengajar Mulai Dilonggarkan untuk Perguruan Tinggi dalam PPKM Mikro ke-4
Tim INOVASI melakukan analisis situasi di 612 SD/MI di 20 kabupaten/kota di delapan provinsi untuk melihat kesenjangan pembelajaran di masa pandemi. Delapan provinsi yang dianalisis yakni Jambi, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, NTT, NTB, Maluku Utara dan Sulawesi Tenggara. Aspek yang dilihat, yakni keterampilan dasar serta dampaknya pada kelompok anak-anak rentan.
Sebelumnya, Komite Pengarah Nasional Program INOVASI, pada April lalu, telah menekankan pentingnya identifikasi siswa kelompok rentan terutama siswa kelas I, II, dan III.