Share

Mengenal Ibrahim si Ahli Hutan Leuser yang Hanya Lulusan SD

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 11 Maret 2020 16:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 11 65 2181700 mengenal-ibrahim-si-ahli-hutan-leuser-yang-hanya-lulusan-sd-dB2Qdk5fSd.jpg Ibrahim si ahli Hutan Leuser. (Foto: Mehulika Sitepu/BBC News Indonesia)

SIAPA sangka tenaga ahli di Hutan Gunung Leuser adalah seorang pria yang hanya lulusan sekolah dasar (SD). Sang ahli tersebut adalah Ibrahim. Dia merupakan orang yang mampu mengidentifikasi ribuan spesies flora dan fauna di Hutan Leuser, bahkan membantu banyak peneliti serta membimbing observasi banyak mahasiswa dan dosen.

Ditemui di Stasiun Penelitian Soraya di pedalaman Hutan Leuser, Ibrahim yang dipanggil "Prof" oleh para jagawana dan staf di sana memang tampak seperti layaknya seorang guru besar.

Berpakaian rapi, kaus lengan panjang hitam seragam Forum Konservasi Leuser yang mengelola stasiun penelitian itu, disematkan ke dalam celana cargo-nya yang diikat dengan gesper.

Ia pun berpengetahuan luas. Semua pertanyaan seputar Hutan Leuser dapat dijawabnya.

Banyak orang langsung terheran-heran begitu mengetahui bahwa Ibrahim hanya seorang lulusan SD.

"Beliau ini cukup ahli dalam mengidentifikasi satwa dan juga tumbuh-tumbuhan. Beliau cukup detail dalam memberikan petunjuk mengenai satwa tertentu atau tumbuhan tertentu," ungkap Ridha Abdullah, seorang staf Forum Konservasi Leuser, seperti dikutip dari BBC News Indonesia, Rabu (11/3/2020).

Ibrahim si ahli Hutan Leuser. (Foto: Mehulika Sitepu/BBC News Indonesia)

Ia menambahkan, "Gelar profesor itu sebagai bentuk penghargaan kepada Beliau dari mahasiswa ataupun dosen-dosen yang pernah dibimbing di lapangan."

Ibrahim menguasai lebih dari 1.000 spesies tanaman dan ratusan spesies hewan. Berdasarkan pengamatan, ia memiliki ingatan fotografis. Terbukti saat masuk ke hutan di sekitar stasiun penelitian, dia berhenti di tengah-tengah untuk mengamati sebuah burung dengan teropongnya.

"Saya menanyakan apa yang sedang dilihatnya," ucap Ridha.

"Burung tepus gunung. Nanti di kamp bisa kita lihat gambarnya di nomor 595," jawab Ibrahim.

Namun bukan sekali itu saja, beberapa kali banyak orang "menguji keahliannya" selama berada di dalam hutan. Kadang menanyakan jenis pohon, kadang hewan yang lewat, bahkan kotoran hewan pun dapat diidentifikasinya.

Ibrahim mulai tertarik dengan fenologi –ilmu yang mempelajari pengaruh lingkungan sekitar terhadap organisme dan sebaliknya– sejak diajak menjadi asisten peneliti di Ketambe, Aceh, pada 1986. Sampai sekarang ia telah meneliti perilaku banyak satwa liar, termasuk siamang, gibbon, dan orangutan.

"Pertamanya saya bingung juga untuk apa diikuti binatang ini. Lama-kelamaan melihat perilakunya itu jadi tertarik juga," kisahnya.

Leuser kaya dengan hutan primer yang menjadi habitat satwa langka, namun sayangnya luasan hutan itu dengan cepat tergerus akibat alih fungsi lahan menjadi ladang warga, perkebunan sawit atau pertambangan.

Menurut dia, kerusakan yang terjadi di Leuser sangat drastis sejak pertama kali masuk ke hutan pada 1993.

"Orangutan itu hampir 50 persen hilang, akibat lahannya tergangggu, kehidupannya terancam, ada yang menangkap dan ada yang membunuh. Kalau harimau pada 90-an jumlahnya mencapai 500-an, tapi sekarang ini sudah sangat rentan," ungkap Ibrahim.

"Bahkan rangkong gading itu pun sudah sulit kita mendengar suaranya pun. Jangankan melihat. Kalau dulu setiap kita pergi pinggir ladang saja pasti kedengaran suaranya. Sekarang sudah susah untuk dengar suara saja," katanya.

"Suara burung lainnya juga seperti murai batu, biasanya di pinggir ladang kita banyak murai baru, paginya berkicau kita dengar, sekarang sudah tak ada lagi."

Ditanyakan mengenai apa yang bisa dilakukan untuk memperlambat kerusakan di Leuser, Ibrahim menjawab, "Kalau pemerintah bisa fokus untuk memerhatikan kesejahteraan masyarakat, bisa memberikan pekerjaan lain, dan kemudian buatlah aturan yang jelas."

Di kamp terdapat buku LIPI 'Seri Panduan Lapangan: Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan'. Di nomor 595 memang ada tercetak "Tepus merbah sampah".

"Burungnya warna punggungnya coklat tua, dagunya abu-abu. Bagian bawahnya agak kuning pucat. Dia sukanya di semak-semak, di tempat rendahan," kata Ibrahim menerangkan karakteristik burung yang tidak tertulis di buku itu.

Tampaknya gelar "profesor" tidak resmi memang layak diberikan ke Ibrahim. Sebab bagaimanapun, ilmu bukan hanya diukur dengan secarik kertas dan waktu yang dihabiskan di institusi pendidikan.

Ibrahim pun berharap Leuser dapat dipertahankan sebagai hutan primer terbaik di Asia yang penting bagi kemaslahatan dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini