JAKARTA - Sudah bukan lagi rahasia umum jika hoax kini mulai beredar luas di internet. Mulai dari aplikasi chatting hingga media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.
Di sejumlah platform tersebut, tak hanya ada interaksi antar pengguna, sebagian user juga menggunakan platform itu untuk menyebar informasi.
Sayangnya, penyebaran informasi tersebut tak jarang mengabaikan unsur verifikasi sehingga masyarakat sangat rentan terpapar kabar bohong atau hoax di media sosial. Hal ini tentu saja merugikan bagi pembaca berita hoax atau orang yang diberitakan tersebut.
Mengulik masalah ini, Okezone Goes to Campus berkunjung ke Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) di Jakarta Selatan dan berdiskusi tentang tema "Tantangan Media di Era Digital: Media Online vs Media Sosial".
"Dengan banyaknya pengguna media sosial, informasi (di media sosial) itu kadang terlalu membeludak sehingga tidak terkonfirmasi apakah ini benar atau tidak," kata Pemimpin Redaksi Okezone.com, Muhammad Budi Santosa dalam Redbons Okezone Goes to Campus, Rabu (11/10/2017).
Oleh sebab itu, kata dia, media mainstream termasuk media online yang telah diverifikasi Dewan Pers memiliki peran penting agar hoax itu tidak meluas ke masyarakat.
"Kita punya kewajiban mendistribusikan konten yang terverifikasi agar user bisa memilah-milah. Sebab fungsi dari media online adalah mengonfirmasi apakah berita di medsos itu benar atau hoax. Memang medsos bisa dijadikan sumber pertama, tapi harus kita cek lagi kebenaran berita itu di media online atau media mainstream," jelas Budi.