JAKARTA - Peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 yang memilih program studi (prodi) keolahragaan dan ilmu seni diwajibkan mengikuti tes lanjutan, yakni ujian keterampilan. Penilaian tahap ini memiliki bobot 60 persen sehingga tidak bisa diremehkan begitu saja oleh para peserta.
Meski diselenggarakan setiap tahun, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir akan mengevaluasi kembali pelaksanaan ujian keterampilan SBMPTN. Evaluasi ini dilakukan khususnya bagi prodi keolahragaan yang memiliki prasyarat tes kesehatan bagi para peserta.
"Untuk ilmu keolahragaan ada syarat tes kesehatan. Tampaknya ini ada pemungutan biaya bagi calon mahasiswa yang bisa menjadi beban. Ke depan akan dievaluasi lagi," ujarnya kepada wartawan, Rabu (1/6/2016).
Nasir mengungkapkan, yang terpenting adalah mendapatkan sumber daya yang berkualitas dan dari segi kesehatan sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Dia pun menyarankan beberapa model untuk mengantisipasi ketidaksesuaian standar kesehatan mahasiswa yang sudah diterima.
"Kemungkinan setelah diterima di program keolahragaan mahasiswa tidak memenuhi standar kesehatan, nanti rektor diberi kewenangan memindah mahasiswa pada prodi lain," tuturnya.
Mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) itu menilai, model-model tersebut dilakukan agar calon mahasiswa yang berasal dari kalangan ekonomi heterogen tidak merasa terbebani dengan adanya ujian keterampilan SBMPTN, khususnya menyangkut tes kesehatan.
"Nanti kami akan pikirkan model-model itu. Oleh karena sekarang sudah berjalan, maka evaluasi tersebut untuk tahun depan," tandasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik