JAKARTA - Sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 hingga kini pendidikan menjadi salah satu pionir untuk memajukan bangsa. Tapi selama 70 tahun Indonesia merdeka tepatnya jatuh pada hari ini, pendidikan di Indonesia belum merata dinikmati anak bangsa.
Hampir di banyak pelosok daerah terdapat anak-anak yang ekonomi keluarganya berpendapatan kecil terpaksa putus sekolah. Anak-anak tersebut terpaksa harus ikut membanting tulang membantu orangtua mereka untuk menghidupi keluarga.
"Kalau kita mereview kembali di 70 tahun Indonesia merdeka dalam hal pendidikan, anak putus sekolah masih masih tinggi, ini hampir semua terjadi di Tanah Air," kata Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti dihubungi Okezone, Senin (17/8/2015).
Menurut Retno, merujuk data FSGI angka anak putus sekolah terutama terjadi pada anak perempuan di usia 7,7 tahun atau anak yang sudah menginjak bangku SD ke SMP dan hal ini hampir terjadi di sebagian besar provinsi, terutama di daerah tertinggal. Adapun, untuk anak putus sekolah khusus laki-laki di usia 8,1 tahun saat menginjak SMP.
"Artinya belum sempat lulus SMP, anak-anak ini sudah harus putus sekolah. Kalau angka kasarnya banyak yang belum lulus SMP," kata mantan Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta ini.

Menurutnya, sejatinya tujuan dari negara Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan segala anak bangsa dalam hal ini memenuhi kebutuhan pendidikan mereka. Tapi hal ini tidak serta merta dilakukan pemerintah.
"Pemerintah saat ini kurang memiliki kepedulian terhadap anak putus sekolah," ujarnya.
Pengamat pendidikan anak nasional, Seto Mulyadi mengatakan, pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memuja nawacita dan revolusi mental harus melakukan upaya memajukan pendidikan di Indonesia ketika negara ini sudah menginjak 70 tahun di hari kemerdekaan. Ketika anak-anak bersekolah untuk meraih mimpi mereka juga harus mendapatkan perlindungan baik dari pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah.
"Saya kira apa yang pernah dicetuskan pemerintah seperti nawacita dan revolusi mental harus diterapkan di dunia pendidikan dengan adanya moto kerja, kerja dan kerja," ujar Kak Seto dikonfirmasi.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik