MENGAPA bangkai kapal Virgo Transport 8 yang tenggelam belum juga diangkat ke permukaan? Mungkin ini jadi pertanyaan yang paling banyak muncul di benak publik saat ini.
Pasalnya, bangkai KMP Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa hingga kini belum juga berhasil diangkat ke permukaan. Padahal, keberadaan kapal di dasar laut menjadi salah satu kendala utama dalam pencarian dan evakuasi korban yang masih belum ditemukan.
Kapal tersebut mengalami kecelakaan pada 13 September 2026 setelah berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal kemudian terbalik dan tenggelam di perairan sekitar Masalembo, Laut Jawa.
Proses pencarian korban terus dilakukan. Namun, kondisi bangkai kapal yang miring, tidak stabil, serta berada di bawah permukaan laut membuat penyelam tidak dapat dengan mudah menjangkau seluruh bagian kapal.
Lantas, mengapa bangkai Virgo Transport 8 belum juga diangkat? Dilansir dari Reuters, berikut sederet alasan mengapa bangkai kapal Virgo Transport 8 yang tenggelam belum juga diangkat ke permukaan.
Salah satu kendala utama adalah posisi kapal yang tidak stabil. Basarnas menyebut kondisi tersebut membuat penyelam menghadapi risiko ketika mencoba masuk ke sejumlah bagian kapal. Karena itu, penyelaman tidak bisa dilakukan secara sembarangan tanpa mempertimbangkan keselamatan personel.
Virgo Transport 8 merupakan kapal jenis roll-on/roll-off yang memiliki struktur lambung relatif tinggi. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika kapal berada dalam posisi terbalik dan kemudian tenggelam. Penyelam harus memasuki bagian kapal yang gelap, terendam air, dan memiliki struktur yang tidak mudah diprediksi.
Dilansir dari Reuters, penyelam menghadapi berbagai bahaya, termasuk struktur kapal yang tidak stabil, puing tajam, konsentrasi gas, serta bahan bakar yang bocor. Kondisi tersebut membuat akses ke sejumlah kompartemen menjadi sangat berisiko.
Lokasi bangkai kapal berada di Laut Jawa dengan kedalaman puluhan meter. Pada tahap awal operasi, arus di sekitar lokasi sempat sangat kuat.
Dilansir dari Reuters, kecepatan arus pernah mendekati 7 knot, jauh di atas batas yang dianggap aman untuk penyelaman. Kondisi tersebut kemudian membaik, tetapi tetap menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam operasi bawah air. Gelombang dan angin juga dapat memengaruhi proses penyelaman maupun operasi salvage.
Pengangkatan kapal seberat ribuan ton dari dasar laut bukan pekerjaan sederhana. Pemilik kapal dan perusahaan asuransi perlu menggunakan perusahaan salvage atau pekerjaan atau kegiatan untuk memberikan pertolongan terhadap kapal dan/atau muatannya yang mengalami kecelakaan di perairan, termasuk mengangkat kerangka kapal, rintangan bawah air, atau benda lainnya yang memiliki kemampuan serta peralatan khusus untuk membalikkan dan mengangkat kapal dalam kondisi tersebut.
Dilansir dari Reuters, per 28 September 2026, pemilik kapal dan perusahaan asuransi masih dalam proses menunjuk kontraktor utama untuk pekerjaan salvage. Sejumlah perusahaan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia disebut sedang dipertimbangkan.
Belum diangkatnya bangkai Virgo Transport 8 bukan berarti proses pencarian dihentikan. Justru, kondisi kapal menjadi salah satu alasan mengapa operasi harus dilakukan secara bertahap.
Posisi kapal yang miring dan tidak stabil, kedalaman lokasi, kondisi bawah air, struktur kapal, serta risiko bagi penyelam membuat pengangkatan membutuhkan perencanaan khusus.
Karena itu, salvage menjadi tahap penting untuk membuka akses lebih luas ke dalam kapal, tetapi pekerjaan tersebut harus dilakukan dengan memperhitungkan keselamatan dan kesiapan teknis.
(Djanti Virantika)