CIANJUR – Kemampuan akademik dinilai tidak lagi cukup menjadi satu-satunya bekal mahasiswa untuk memasuki dunia kerja. Selain memahami teori, mahasiswa perlu memiliki keterampilan praktis, kompetensi profesional, pengalaman lapangan, serta kemampuan beradaptasi dengan kebutuhan industri.
Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Politeknik Bhakti Kencana, Cianjur, yang diresmikan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta & PKK) Kementerian Ketenagakerjaan, Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si.
Peresmian tersebut turut dihadiri perwakilan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) melalui Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), Anggota DPR RI Ir. H. Kamrussamad, S.T., M.Si., Ph.D., unsur Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Cianjur, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur dr. I Made Setiawan, serta Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cianjur Denny Widya Lesmana, S.STP., M.Ec.Dev.
Tak Cukup Hanya Mengandalkan Ijazah
Perubahan kebutuhan dunia kerja membuat perguruan tinggi dituntut menyiapkan lulusan yang tidak hanya menguasai bidang akademik. Pengalaman praktik, kemampuan teknis, sertifikasi kompetensi, hingga pengalaman berinteraksi dengan dunia kerja menjadi aspek yang semakin penting.
LPK tersebut diarahkan menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pembelajaran di perguruan tinggi dengan kebutuhan kompetensi di lapangan melalui pelatihan, praktik, pemagangan, dan pengembangan keterampilan.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep link and match antara pendidikan dengan dunia usaha, dunia industri, fasilitas pelayanan kesehatan, serta kebutuhan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Politeknik Bhakti Kencana juga memperkenalkan layanan caregiver, homecare, day care, dan baby care. Keempat bidang tersebut dapat menjadi ruang penerapan keterampilan sekaligus memberikan pengalaman praktik bagi mahasiswa yang berkaitan dengan layanan pendampingan, perawatan, dan pengasuhan.
Bagi mahasiswa, pengalaman semacam ini dapat menjadi pelengkap pembelajaran akademik sebelum mereka benar-benar masuk ke lingkungan kerja. Sementara bagi masyarakat, pelatihan berbasis kompetensi dapat menjadi salah satu jalur untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja.
Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada kelulusan dan perolehan ijazah, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan, bekerja secara profesional, dan beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja.
(Khafid Mardiyansyah)