AICIS 2024: Dibahas Akademisi Dunia, Ini Bocoran 9 Poin Semarang Charter

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis
Sabtu 03 Februari 2024 09:57 WIB
AICIS 2024 (Foto: Semarang Charter)
Share :

JAKARTA - Kisi-kisi 9 poin Semarang Charter (piagam Semarang) yang akan disepakati dalam pertemuan Annual International Conference of Islamic Studies (AICIS) 2024 ke-23 di UIN Walisongo Semarang.

Pertemuan AICIS 2024 diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan bersama untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan global.

Nantinya, 9 poin Semarang Charter akan dimatangkan dan hasilnya dibacakan secara resmi pada penutupan AICIS ke-23 Tahun 2024 pada Sabtu (3/2/2024).

Semarang Charter direncanakan akan diserahkan kepada Kementerian Luar Negeri RI untuk disuarakan secara global di PBB.

Adapun kisi-kisi Semarang Charter itu disampaikan oleh akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Dr Sahiron Syamsuddin saat pertemuan tokoh lintas agama bertajuk Asean Religious Leaders Summit, bagian dari rangkaian AICIS 2024.

Pertama, pengakuan terhadap perbedaan kebhinekaan agama maupun sisi lain. Perbedaan ini harus diakui bersama. Jangan sampai malah menjadi konflik.

Kedua, komunitas-komunitas agama harus bersatu menyelesaikan krisis kemanusiaan. Agama apapun dari negara apapun bersatu menyelesaikan krisis kemanusiaan termasuk perang.

Ketiga, ajaran agama sebaiknya diinterpretasikan dan diimplementasikan sesuai konteks kekinian. Tujuan menciptakan kemaslahatan umat manusia dalam kehidupan sehari oleh umat beragama dan manusia secara umum.

Keempat, pemuka agama dan institusi harus lebih aktif melakukan dialog antar umat beragama. Dialog ini mempromosikan situasi adil aman dan lainnya.

Kelima, komunitas agama harus aktif menjaga lingkungan. Bukan hanya menjaga manusia tapi juga alam. Keenam institusi agama tidak setuju atas perbuatan apapun yang buruk. Apakah itu kebrutalan kepada manusia termasuk perdagangan manusia.

"Kita hilangkan dan memberikan bantuan kepada siapapun yang terdampak krisis," ujarnya.

Ketujuh, teknologi memiliki hal-hal positif tapi di sisi lain ada hal-hal negatif. Komunitas agama dan juga pemuka-pemuka agama harus lebih aktif lagi memberikan pedoman dan arahan kepada pengikutnya agar bisa menggunakan perangkat-perangkat atau sarana-sarana teknologi untuk kebaikan, kemanusiaan dan perdamaian.

"Jangan sampai digunakan untuk hal-hal tercela misalnya menghina dan mencaci maki melalui teknologi," ujarnya.

Kedelapan, para pemuka agama bersikeras mempromosikan kepemimpinan yang beretika. "Kita sebut dengan ethical leadership, kepemimpinan yang beretika, keterbukaan, dan juga satu sama lain harus saling percaya untuk membangun bangsa baik itu di Indonesia dan juga negara lain seluruh dunia," terangnya.

Terakhir, Semarang Charter memiliki komitmen untuk selalu evaluasi diri. "Mengkritik diri untuk kemudian apakah ada yang perlu kami perbaiki sebagai pemuka agama, komunitas agama, dan merefleksi dalam rangka memperbaiki sikap kita," ujarnya.

(Taufik Fajar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya