Kisah Haru Pesantren Tunarungu Membaca Al-Qur'an Tanpa Suara

Galih Wisma, Jurnalis
Jum'at 21 Oktober 2022 11:32 WIB
Suasana menghafal Al-Qur'an di Pondok Pesantren Darul A'shom/Galih W
Share :

YOGYAKARTA - Jika biasanya proses menghafal Al-Qur'an dipenuhi dengan ramainya suara santri mengaji, di sini kesenyapan menjadi kawan karib setiap hari.

Namun, jari para santri lincah bergerak ke sana kemari membaca dan menghafal Kitab Suci.

Seperti itulah suasana belajar membaca Al-Qur'an di Pondok Pesantren Tuna Rungu Darul A'shom Condong Catur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tanpa suara, puluhan santri yang merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) secara hebat belajar Kitab Suci Al-Qur'an.

Berbeda dengan Ponpes pada umumnya, mereka tidak membaca ayat demi ayat dengan lafal suara, melainkan mengeja satu persatu huruf Hijaiyah dalam ayat tersebut menggunakan Bahasa Isyarat.

Meski memiliki keterbatasan, namun semangat mereka untuk bisa menjadi Hafidz dan Hafidzah begitu luar biasa.

Dengan mengadopsi metode pembelajaran dari Arab Saudi, para santri tak hanya menghafal Al-Qur'an, di pondok pesantren ini juga diajarkan Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Isyarat, Ilmu Fiqih serta Pendidikan Formal.

Selain Pendidikan Agama dan Pendidikan Formal, diajarkan pula olahraga memanah, bela diri, dan pola hidup mandiri dengan belajar memasak serta menjaga kebersihan lingkungan.

Keberadaan Ponpes Darul A'shom ini tentu menjadi angin segar bagi penyandang tunarungu di Indonesia.

"Awalnya saya bertemu tunarungu 13 tahun yang lalu, saya melihat bagaimana tunarungu ternyata agamanya dasar sekali, bahkan bisa dibilang tak kenal agama mereka ini. Karena setelah saya lihat, mereka belum pernah belajar agama dari ustaz yang bisa (bahasa) isyarat sehingga mereka tidak mengenal agama," jelas Ustaz Abu Kahfi, Pengasuh Pondok Pesantren Darul A'Shom.

"Mulai saat itu saya mulai termotivasi, merasa risau melihat bagaimana masa depan mereka di dunia dan di akhirat, terutama masalah agamanya. Maka sejak saat itu saya berniat, nazar kepada diri saya dan keluarga saya, mengabdikan hidup kita ini untuk tunarungu,"

Pondok ini merupakan Pondok Pesantren pertama di Indonesia yang menerapkan konsep mondok bagi difabel tunarungu dan tunagrahita.

Para orangtua yang memondokkan anaknya di sini pun berharap anaknya dapat mandiri dan dapat belajar ilmu agama seperti anak-anak pada umumnya.

"Saya baru menemukan ini pendidikan agama dengan bahasa Isyarat dan saya juga sangat-sangat berterima kasih atas pondok ini ya. Ini Mungkin bukan hanya saya, tapi orangtua lainpun juga sangat-sangat senang dengan kehadiran pondok ini," ungkap Tukini, orangtua santri.

Tak sedikit para santri yang mondok di Ponpes ini bercita-cita menjadi ustaz penghafal Al-Qur'an yang kelak bisa menularkan ilmunya kepada para penyandang tunarungu lainnya di Indonesia.

Hingga saat ini, Pondok Pesantren Darur A'shom telah memiliki 116 santri yang terdiri dari 40 santriwati dan 76 santri putra yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka terbagi dalam tiga pondokan terpisah yang didampingi belasan ustaz dan ustazah pembimbing.

(Natalia Bulan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya