BICARA soal mata pelajaran Fisika itu sulit, memang sulit. Sehingga harus dibuat menarik untuk dipelajari. Berangkat dari persoalan itu, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menggelar Pelatihan Guru Fisika (PGF) 2018.
Mengusung tema “Inovasi Pembelajaran Fisika dalam Bidang Teknologi Digital: Menyongsong Revolusi Industri 4.0”, kegiatan ini bertujuan mempertajam kemampuan para guru fisika yang berasal dari jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Kegiatan ini diikuti oleh para guru dari berbagai kota di Indonesia dan tidak hanya dari SMA di Bandung.
Adapun, peserta terdiri dari para pengampu kelas fisika yang berasal dari sekolah negeri maupun swasta. Dalam kesempatan ini, Rektor Unpar, Mangadar Situmorang Ph.D hadir untuk membuka acara. Turut hadir pula Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat, Ahmad Hadadi yang mengakui peran Unpar dalam pembangunan bangsa.
Hadadi juga memuji kegiatan PGF sebagai salah satu ‘wahana’ bagi para guru mata pelajaran untuk memulai kiprahnya dalam pengajaran untuk mendukung Revolusi Industri 4.0 serta sebagai bentuk untuk mewujudkan generasi siswa yang mandiri, kreatif dan mampu bersaing sebagai sumber daya manusia Indonesia.
Salah satu pembicara, Aloysius Rusli menjelaskan tentang perkembangan konsep digital dan analog, mengapa teknologi digital lebih efisien dibanding analog.
“Bit, sekadar saya kasih tahu saja, bit itu bukan sebuah kata. Bit adalah singkatan dari binary digit (bilangan dwi-angka, merujuk pada penggunaan '1' dan '0'),” ungkap Aloysius memberikan trivia singkat.
Di sela sesi, moderator acara, Muhammad Arifin Dobson yang merupakan mahasiswa Fisika Unpar, memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengikuti eksperimen kecil yang dapat membantu pengajaran fisika kepada peserta didik.
Eksperimen dengan menggunakan gas, sabun dan api tersebut mencairkan suasana yang dingin menjadi menyenangkan karena para peserta menjadi lebih penasaran dengan contoh-contoh eksperimen lainnya yang dapat dilakukan di sekolah.
Acara yang diselenggarakan pada 5 hingga 7 September 2018 ini diisi oleh berbagai workshop dengan menggunakan instrumen TIK. Hal ini dipertimbangkan karena meningkatnya unsur strategis dan vital TIK dalam pendidikan saat ini yang berupaya mempersiapkan para lulusan sekolah untuk menyambut revolusi industri. Juga, guna membentuk lapangan kerja dengan karakteristik pengetahuan di bidang TIK.
(Rizka Diputra)