POLEWALI MANDAR - Pencinta alam liar umumnya gemar mengendarai motor trail guna menaklukkan medan yang berat. Tetapi, bagi seorang gadis remaja di Polewali Mandar, Sufahira, mengendarai motor trail berarti tiketnya meraih ilmu pengetahuan.
Betapa tidak, guna mencapai sekolahnya, Sufahira harus menempuh jarak 20 km dengan berbagai rintangan alam. Jika menggunakan angkutan umum dengan jadwal perjalanan tidak tentu, dia butuh waktu 1,5 jam untuk mencapai sekolah.
Menurut Gadis asli Desa Sabura, Kecamatan Bulo, Polewali Mandar, ini, waktu tempuh menjadi lebih lama jika kondisi jalan rusak parah saat musim penghujan.
"Alhamdulillah, berbekal sepeda motor trail ini saya tidak pernah telat. Bahkan saya selalu menjadi yang pertama tiba di sekolah," tutur Sufahira.
Siswi kelas 2 jurusan komputer SMK Negeri 1 Bulo ini bercerita, ketika meminta sepeda motor kepada orangtuanya, dia mendapat tentangan. Apalagi pilihannya adalah sepeda motor trail yang cenderung sulit dikendalikan gadis remaja 17 tahun seperti dirinya.
Kedua orangtua Sufahira, Safaruddin dan Naharia, akhirnya luluh. Mereka membelikan anak sulungnya tersebut sebuah motor trail rakitan disertai pesan agar Sufahira berkendara dengan hati-hati.
Purnapaskibraka Kecamatan Bulo ini juga mengakui, sepeda motor trail bermesin 110 cc ini dapat mengantarkannya ke sekolah dengan waktu sekira 45 menit. Selama dua tahun mengendarai sepeda motor trail di medan yang berat, Sufahira sering juga menghadapi berbagai masalah.
Tidak terhitung berapa kali motor tuanya ini mogok. Sufahira juga sering jatuh karena jalan yang rusak dan licin.
"Rasa yakin dan mimpi untuk menggapi cita-cita dengan terus bersekolah, membuat saya tetap bersemangat untuk melewati semua cobaan dan rintangan di jalan," ucapnya.
Sufahira bercerita, sebagian orang menganggap kebiasaan mengendarai motor trail ini bukan hal yang biasa, bahkan cenderung tidak pantas. Gadis yang bercita-cita menjadi seorang polisi wanita (polwan) ini tidak menganggap pendapat itu sebagai masalah selama dia dapat terus ke sekolah guna mewujudkan cita-cita.
"Bagi saya ini bukan sekedar motor trail, bukan sekadar hobi. Bagi saya ini adalah salah satu penunjang bagi saya agar bisa terus ke sekolah. Bisa dibayangkan, bagaimana jika saya menggunakan kendaraan umum atau motor biasa, tidak hanya akan selalu terlambat bahkan tidak ke sekolah. Motor biasa juga akan selalu rusak karena tidak cocok dengan kondisi medan yang dilalui," tambahnya.
Kepala SMKN 1 Bulo, Syarif, mengapresiasi semangat Sufahira untuk tetap tekun ke sekolah. Meski, hal itu cukup berbahaya baginya.
Syarif mengakui, kondisi jalan dari sekolah menuju rumah sebagian murid di daerah ini memang terbilang rusak parah. Bahkan, kondisi itu acapkali membuat banyak pelajar di daerah ini yang kesulitan untuk sampai ke sekolah.
"Memang harus dimaklumi, apalagi kondisi jalan dari sebagian rumah siswa ke sekolah, tidak lagi hanya sekedar rusak parah, tetapi juga sudah terbilang ekstrem," sebutnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)