Morland juga menilai kecenderungan generasi muda yang menunda pernikahan dan kelahiran anak sebagai perkembangan yang positif. Menurut dia, pola tersebut memungkinkan individu berkontribusi secara ekonomi terlebih dahulu sebelum membangun keluarga.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kesalahan yang kerap terjadi di berbagai negara adalah tidak menyadari bahwa bonus demografi hanya berlangsung dalam periode tertentu.
“Kesalahan besarnya adalah memanfaatkan momen itu tanpa menyadari bahwa itu hanyalah sebuah momen,” katanya.
Morland menegaskan, apabila tingkat fertilitas tidak dijaga pada kisaran ideal, yakni sekitar dua hingga tiga anak per keluarga, maka suatu negara berisiko kehilangan modal manusia pada masa depan. Dalam 20 hingga 30 tahun mendatang, ketika generasi produktif saat ini memasuki usia pensiun, jumlah penduduk usia kerja dikhawatirkan tidak lagi memadai untuk menggantikan mereka.
Karena itu, ia menekankan pentingnya kebijakan kependudukan yang berkelanjutan. Kebijakan tersebut, menurutnya, tidak hanya berfokus pada optimalisasi bonus demografi saat ini, tetapi juga menjaga keseimbangan struktur penduduk dalam jangka panjang. Tanpa perencanaan yang matang, dividen demografis berpotensi berubah menjadi beban demografis di kemudian hari.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik