Indonesia Pimpin Sidang Regional Asia-Pasifik Menuju UNESCO Mondiacult 2022

Neneng Zubaidah, MNC Portal · Rabu 12 Januari 2022 19:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 12 65 2531183 indonesia-pimpin-sidang-regional-asia-pasifik-menuju-unesco-mondiacult-2022-uFVVyB29S8.jpg Mendikbudristek Nadiem Makarim

JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbudristek menjadi tuan rumah sidang pertemuan regional kawasan Asia-Pasifik menuju UNESCO Mondiacult 2022. Acara itu digelar secara hybrid di Jakarta Convention Center, pada 11 sampai 12 Januari 2022.

Sidang tersebu merancang agenda global yang baru mengenai kebijakan bidang kebudayaan pascapandemi Covid-19.

Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, mengatakan Asia-Pasifik merupakan wilayah dengan tingkat keberagaman budaya yang tinggi. Terdapat 48 negara dengan 17 zona waktu yang berbeda-beda.

“Melalui kolaborasi regional ini, saya yakin kita akan melangkah maju menuju masa depan yang berkelanjutan di mana menggunakan istilah yang digunakan oleh Mr Ernesto Ottone, manusia dan kebudayaannya diletakkan sebagai inti dari pembangunan,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (12/2/2022).

Sementara itu, Asisten Direktur Jenderal Kebudayaan UNESCO, Ernesto Ottone, mengatakan sebagai upaya memenuhi Tujuan Global Persatuan Bangsa-Bangsa (UNSDGs), UNESCO melibatkan negara anggotanya dan masyarakat internasional untuk memulai refleksi baru mengenai kebijakan kebudayaan.

“Memasuki Dekade Aksi terakhir, UNESCO melibatkan negara-negara anggotanya dan masyarakat internasional untuk memulai sebuah refleksi baru mengenai kebijakan kebudayaan yang dapat menyelesaikan permasalahan global seperti ketidaksetaraan, konflik, revolusi teknologi atau perubahan iklim,” tuturnya.

Untuk diketahui, dalam empat dekade terakhir, tatanan global termasuk sektor kebudayaan telah berevolusi secara signifikan. Munculnya isu-isu baru yang menjadi pemecah hubungan antarnegara serta berbagai permasalahan global mendorong negara untuk mengadaptasi kebijakan sehingga dapat menjalankan perannya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat global.

Sementara itu, pandemi Covid-19 telah menunjukkan adanya kerentanan bersama pada negara-negara ketika diharuskan menghadapi situasi darurat, dan pada saat bersamaan, tetap mempertahankan keberlangsungan sosial dan ekonomi negaranya.

Dalam konteks yang sama, gangguan yang dialami secara luas oleh sektor kebudayaan menunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak akan adaptasi dalam sektor tersebut.

Baca Juga : Sekolah Boleh Terapkan Kurikulum Prototipe, Ini Kriterianya

Untuk itu, Konferensi Kebijakan Kebudayaan Dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Persatuan Bangsa-Bangsa (UNESCO World Conference on Cultural Policies) Mondiacult 2022 kembali akan diselenggarakan oleh Pemerintah Meksiko pada tanggal 28 sampai 30 September 2022 dan akan dibuka oleh Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay.

Empat puluh tahun setelah Konferensi Kebijakan Kebudayaan Dunia (Mondiacult) pertama di Mexico City pada tahun 1982 dan 24 tahun setelah Konferensi UNESCO tentang Kebijakan Kebudayaan Dunia untuk Pembangunan (UNESCO World Conference on Cultural Policies for Development) di Stockholm, Swedia pada tahun 1998.

Konferensi Kebijakan Kebudayaan Dunia Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Persatuan Bangsa-Bangsa (UNESCO World Conference on Cultural Policies) – Mondiacult 2022 ini akan membawa momentum baru dalam perkembangan dialog global terkait peran kebudayaan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Sebelum Konferensi Kebijakan Kebudayaan Dunia UNESCO Mondiacult 2022 digelar, UNESCO menyelenggarakan lima pertemuan regional yang rencananya akan diselenggarakan antara Desember 2021 dan Februari 2022. Untuk kawasan Asia-Pasifik, Indonesia memimpin proses koordinasi dan masukan dari Negara-negara di Asia-Pasifik, yang merupakan salah satu wilayah terluas dengan keberagaman terbanyak di dunia.

Para menteri dan pejabat senior Negara, serta organisasi-organisasi internasional antarnegara dan non-negara terkemuka di kawasan akan bertemu secara daring selama dua hari untuk mengidentifikasi tren utama, permasalahan, dan area prioritas kebijakan kebudayaan.

Dalam pertemuan ini, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Hilmar Farid yang memimpin jalannya pertemuan yang diikuti oleh 30 Negara kawasan Asia Pasifik ini memulai acara dengan pemilihan wakil ketua untuk membantu jalannya sidang pertemuan.

“Ketiga puluh Negara ini mewakili lebih dari 60 % negara kawasan Asia Pasifik, juga di sini ada 28 organisasi kemasyarakatan internasional dan lembaga-lembaga antarpemerintah lainnya,” ucap Dirjen Hilmar.

Dirjen Hilmar mengundang para partisipan untuk mengungkapkan pendapatnya dalam acara ini. “Akan ada pendapat yang disampaikan lisan, dan ada yang memberi pernyataan tertulis. Negara-negara yang menyampaikan pendapat adalah dari kawasan Pasifik terlebih dahulu karena adanya perbedaan zona waktu,” ucap Hilmar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini