Share

UMI dan Institut Leimena Gelar Webinar Penguatan Moderasi Beragama, Diikuti 1.200 Peserta

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 29 Oktober 2021 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 29 65 2493724 umi-dan-institut-leimena-gelar-webinar-penguatan-moderasi-beragama-diikuti-1-200-peserta-c4COOScFhy.jpg Foto: Tangkapan layar

“UMI menyandang dua identitas utama yaitu Islam dan Indonesia. Oleh karena itu, kami sangat peduli kepada aspek Keislaman dan nasionalisme sehingga dalam membangun moderasi beragama, kita akan membangun cinta tanah air dan toleransi terhadap berbagai kalangan,” kata Prof Hattah.

Program pesantren kilat di Pesantren Mahasiswa UMI Darul Mukhlisin yang diresmikan pada 22 September 2000, memberikan beragam materi kepada mahasiswa khususnya keagamaan dan pengembangan karakter, serta wawasan kebangsaan.

Webinar internasional yang digelar UMI dan Institut Leimena juga menghadirkan tiga narasumber penting yaitu Muhammad Suaib Tahir yaitu staf ahli pada Satgas Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dr. Ni Made Ayu Masnathasari, S.Ked. sebagai alumnus UMI, serta Dr. Chris Seiple yaitu senior research fellow di University of Washington. 

Dalam paparannya, Muhammad Suaib mengatakan radikalisme, intoleransi, dan ekstrimisme harus dihadapi dengan penyebaran narasi damai dan moderat di tengah masyarakat. Menurutnya, sejumlah isu yang selalu diangkat oleh kelompok berpandangan ekstrem atau radikal yaitu persoalan terkait iman dimana orang yang berbeda selalu dianggap kurang iman. Selain itu, kelompok radikal atau ekstrem mendukung khilafah yang melanggar konsensus bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Terakhir, munculnya paham takfiri atau mudah mengkafirkan orang lain. 

“Diskusi moderasi beragama sangat penting terutama menjelaskan kepada masyarakat bahwa karakteristik moderasi beragama itu inklusif, bukan eksklusif. Dalam moderasi beragama, kita harus menjelaskan bagaimana Islam bersikap akomodatif bukan konfrontatif,” kata Suaib yang juga Dosen Pasca-Sarjana Institute Perguruan Tinggi Ilmu Alqur’an Jakarta (PTIQ) serta mengenyam pendidikan di Universitas Islam Omdurman, Sudan, dan memperoleh gelar Ph.D.

Sementara itu, alumnus UMI, dr. Ni Made Ayu, menyampaikan pengalamannya sebagai mahasiswa non-Muslim yang pernah mengikuti pendidikan di Pesantren Darul Mukhlisin. Ni Made mengakui sempat muncul kegelisahan saat menjalani pendidikan di UMI, namun saat mulai membuka diri justru mendapatkan penerimaan dan pertemanan yang baik.

“Kita mungkin tidak bisa mengendalikan perasaan, perkataan orang lain yang mungkin membenci kita. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita, tetap menjaga prinsip kita, bukan mengubah pendirian, tapi mudah beradaptasi,” ujar Ni Made Ayu.

Dr. Chris Seiple mengatakan ekstremisme ada di semua agama sehingga semua umat beragama bertanggung jawab mengatasi hal itu. “Peran unik saya dan Anda adalah memikirkan integrasi teologi dan pelibatannya dalam kehidupan publik. Saya sangat senang hadir dalam panel ini karena saya merasa menjadi orang Kristen yang lebih baik dengan hadir di sini,” ujarnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini