Kisah Sejumlah Siswa Menjadi Yatim-Piatu Akibat Virus Corona

Trisna Purwoko, iNews · Selasa 27 Juli 2021 18:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 27 65 2446802 kisah-sejumlah-siswa-menjadi-yatim-piatu-akibat-virus-corona-RJVjqn53Qv.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

BANTUL - Pandemi virus corona menyisakan duka bagi sejumlah remaja dan anak anak yang terpaksa harus kehilangan orang tuanya. Ada diantara mereka yang kehilangan salah satu orang tuanya, namun ada pula yang kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.

Kaki kecil Asyifa Azalea (5) ini berjalan cepat mendahului langkah ibu dan adiknya, menuju lokasi makam ayahnya di wilayah Kasongan Bantul. Diah Dwi Astuti mengantarkan kedua anaknya Asyifa Azalea dan Asyifa Anggraeni (3) untuk berdoa di makam Narto, ayah dari kedua anaknya yang meninggal pada tanggal 10 Juli 2021 akibat Covid-19.

Baca juga: Update Corona 27 Juli 2021 : Positif 3.239.936, 2.596.820 Sembuh & 86.835 Meninggal

Selain Asyifa Azalea dan Asyifa Anggraeni yang mendadak jadi yatim piatu akibat Covid-19, duka nestapa juga dialami oleh warga Kecamatan Kasihan lainnya, yakni sepasang remaja kembar bernama Via dan Vita yang berusia 15 tahun. Remaja kembar yang menuntut ilmu di pondok pesantren ini terpaksa harus kehilangan 4 orang anggota keluarganya dalam sepekan akibat terpaparCovid-19.

Baca juga: Breaking News : Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 45.203

Remaja kembar ini kehilangan kedua orang tuanya hampir dalam waktu yang bersamaan disusul nenek mereka dan kakak lelaki mereka yang tengah menjalani isolasi mandiri. Tinggal berdua di rumah membuat mereka merasa sedih, karena selalu teringat dengan kedua orang tua dan kakak mereka, sehingga untuk sementara keduanya tinggal di rumah paman mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ranu Aji, siswa kelas 5 SD yang tinggal di Dusun Melikan, Bantul Yogyakarta , kedua orang tua Ranu meninggal dunia akibat terpapar Covid-19, ayah Ranu meninggal di rumah saat isolasi mandiri, selang 5 hari kemudian sang ibu meninggal dunia saat menjalani karantina di selter kabupaten.

“Untuk menyembuhkan trauma kehilangan orang tua secara mendadak ini sangat dibutuhkan perhatian dari sejumlah pihak, terutama dari tetangga dekat, agar anak anak ini tidak merasa sendirian setelah kepergian orang tua mereka selama lamanya,” kata Ketua Penggerak PKK Kabupaten Bantul, Emi Masruroh.

Ia pun menambahkan, pemerintah dituntut untuk dapat memberikan pendampingan dan bantuan, agar anak anak ini tetap bisa memiliki masa depan , walau sudah tidak memiliki orang tua. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini