Share

Petani Asal Kutai Kartanegara Ciptakan Metode Bertani Tanpa Bakar Lahan

Susi Fatimah, Okezone · Jum'at 06 April 2018 12:50 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 06 65 1883010 petani-asal-samarinda-ciptakan-metode-bertani-tanpa-bakar-lahan-yW9ql5saM6.jpg Foto: Dok Istimewa

SAMARINDA – Imansyah (53), petani dari Dusun Malong, Desa Lamin Telihan, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur menciptakan inovasi bertani tanpa bakar lahan.

Untuk memperkenalkan temuanya kepada warga sekitar bukan hal mudah, ia bahkan pernah dicemooh. Pasalnya warga menganggap praktik bertani tanpa bakar yang dilakukannya tidak efisien dan hasil yang didapat tidak sebaik apabila dengan metode bakar lahan.

“Ketika saya awalnya mengajak warga untuk berganti cara tanam (tanpa bakar), banyak yang tidak percaya. Namun, setelah melihat hasilnya yang bahkan lebih baik dari metode membakar, lambat laun semakin banyak petani di Malong yang mengikuti metode saya,” ungkap Imansyah dalam siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (6/4/2018).

Imansyah yang merupakan salah satu petani binaan program DMPA inisiasi Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas itu memamerkan Padi Gunung sebagai hasil cocok tanamnya. Padi Gunung (Mayas dan Tokong) merupakan jenis pangan lokal masyarakat tradisional Kalimantan dan memiliki karakteristik lebih lembut serta lebih mahal dari padi umumnya. Program DMPA memungkinkan masyarakat Dayak Tunjung (suku asli Dusun Malong) untuk membudidayakan produk unggulan tersebut tanpa membakar lahan.

“Selama berpuluh-puluh tahun, warga Dusun Malong menanam Padi Gunung dengan metode tradisional, yaitu berpindah-pindah dan membakar lahan. Dengan ini kami bisa menanam Padi Gunung dengan metode tumpang sari," terang Imansyah.

Imansyah mengaku terbantu dengan adanya program ini sebab ia mendapat bantuan untuk penyiapan lahan, pemberian bibit, serta pendampingan, masyarakat kini memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil Padi Gunung yang maksimal, sembari tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Tercatat, sudah tiga kali warga Dusun Malong berhasil memanen Padi Gunung. Dari lahan per satu hektar dan bibit sejumlah 2,5 kaleng, para petani tersebut mampu menghasilkan 200 kaleng per hektar yang masing-masing kaleng setara dengan 9 kg beras Padi Gunung.

Head of Corporate Social and Security APP Sinar Mas Agung Wiyono mengatakan, program DMPA kini telah menjangkau 191 desa yang tersebar di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Per Maret 2018, penerima manfaat program DMPA telah mencapai 13.814 Kepala Keluarga.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini