Dari Berjualan Sayur di Sleman hingga Raih Kuliah ke Inggris

Pernita Hestin Untari, Okezone · Rabu 04 April 2018 08:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 03 65 1881388 dari-berjualan-sayur-di-sleman-hingga-raih-kuliah-ke-inggris-QhsYcb6m5y.png Foto: Dok LPDP

Janu Muhammad, anak penjual sayur di Kabupaten Sleman, Yogyakarta ini memiliki segudang prestasi. Berasal dari keluarga yang sederhana tidak menyurutkan niatnya untuk terus melambungkan prestasinya sampai ke kancah internasional.

Janu -biasa ia disapa- merupakan lulusan terbaik dari jurusan Pendidikan Geologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2015 lalu. Laki-laki kelahiran 7 Januari 1993 ini juga menyandang gelar aktivis terbaik di Fakultas Ilmu Sosial. Selain itu, pada tahun yang sama, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan Bupati Sleman memberikan penghargaan kepadanya sebagai Pemuda Pelopor di bidang pendidikan.

Tidak sampai disitu saja, menjadi lulusan terbaik tak membuatnya berhenti mewujudkan mimpi. Justru hal itu menjadi awal perjuanganya untuk medapatkan beasiswa S-2 dari LPDP.

Di lansir dari laman LPDP, (Rabu 4/4/2018), ia menuturkan kisahnya untuk mendapatkan beasiswa S-2. Karena masih memiliki skor TOEFL yang rendah, ia mengikuti kursus sembari merawat ibunya yang baru menyelesaikan operasi. Seringkali juga ia harus pergi ke pasar Sleman untuk membantu orang tuanya berjualan sayur.

Pada Desember 2015, Janu dinyatakan lulus mendapatkan beasiswa LPDP melalui jalur afirmasi prestasi dari keluarga kurang mampu. Perjuangannya pun belum usai, skor ujian bahasa Inggris-nya belum memenuhi kriteria untuk mendapatkan surat dinyatakan diterima tanpa syarat dari kampus yang dituju. Ia pun mengikuti program pengayaan bahasa di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) selama tiga bulan. Belasan juta rupiah yang telah habis dan lima kali tes bahasa Inggris pun belum cukup memenuhi skor yang diharapkan. Janu menuturkan bahwa ia ingin meyerah pada waktu itu. Namun, pada titik akhir perjuanganya dia dinyatakan diterima di University of Birmingham, Britania Raya, Inggris.

Janu belajar mengenai Ilmu Geografi Manusia atau Humas Geography. Bidang ilmu ini mempelajari mengenai aspek-aspek keruangan beserta gejala-gejala yang terjadi di permukaan bumi dengan manusia sebagai objek pokoknya.

“Saya mempelajari sisi sosial dari ilmu geografi yang di antaranya mencakup geografi ekonomi, kota, pembangunan, politik, dan budaya,” terang Janu.

Fokus studi Janu adalah pada kajian geografi kota (urban geography) dengan minat bidang riset pada fenomena gentrifikasi dan regenerasi kota. Ia menuturkan alasanya menekuni kajian geografi kota, menurutnya kontribusi ilmuwan geografi (geograf) kota di Indonesia masih minim, terutama pada bidang strategis perencanaan kota berkelanjutan. Padahal, dengan mempelajari bidang tersebut, geograf kota dapat melakukan riset dan memberikan pengaruh pada perumusan kebijakan tata kota dalam perspektif geografi.

Lebih lanjut lagi Janu menuturkan bahwa di Indonesia masih kekurangan ilmuwan geografi, sedangkan jumlah permintaan tenaga profesional di bidang ini sangat tinggi. Utamanya pada beberapa sektor strategis seperti pembangunan wilayah, pengelolaan sumber daya alam, mitigasi bencana, tata kota, dan geospasial. Sebagai bagian dari program studi S-2-nya, Janu tengah melakukan persiapan penelitian di Rotterdam, Belanda.

Penelitiannya bertujuan untuk menganalisis dampak-dampak serta strategi yang perlu dilakukan dengan adanya fenomena gentrifikasi dan urban redevelopment di Kop van Zuid.

“Dari penelitian ini, saya berharap ada pelajaran yang bisa diambil untuk kota-kota di Indonesia, terutama di daerah yang kini sedang melakukan pembangunan secara masif seperti di Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta,” kata Janu.

Harapannya, pembangunan di kota-kota tersebut bukan hanya untuk mencapai aspek kesejahteraan ekonomi, melainkan juga memperhatikan aspek kelingkungan dan sosial masyarakat.

Selepas dari studi S-2nya nanti Janu mantap menata dirinya di masa depan sebagai seorang dosen geografi manusia serta peneliti. “Saya juga berharap agar hasil penelitian yang saya lakukan dapat digunakan sebagai rekomendasi kebijakan pembangunan kota di tempat kelahiran saya, Sleman atau kota lainnya,” imbuhya.

Selain itu ia juga menambah sumber kekuatan terbesarnya sampai mencapai semua prestasi hingga kini berkat orangtuanya. Nasihat ibu selalu dipeluknya erat-erat.

“Nak, belajarlah yang rajin, milikilah kejujuran, jadilah anak sholeh dan bermanfaat untuk masyarakat,” katanya mengenang.

Janu bersyukur dilahirkan dari keluarga sederhana. Meskipun sang ibu hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) dan ayahnya bahkan berhenti sekolah di kelas tiga SD, mereka selalu bekerja keras demi pendidikan anak-anak.

“Kedua orangtua saya tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi, tapi mereka adalah profesor terbaik yang pernah saya miliki,” ujar anak sulung dari dua bersaudara itu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini