Muslihun Sukses Tempuh Pendidikan Tinggi dengan Bekal Seribu Rupiah

Shara Nurachma, Okezone · Jum'at 16 Februari 2018 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 02 13 65 1859062 muslihun-sukses-tempuh-pendidikan-tinggi-dengan-bekal-seribu-rupiah-863wDdPbqb.jpg Foto: Dok LPDP

JAKARTA - Muslihun lahir dari keluarga yang memiliki kondisi ekonomi serba terbatas. Mata pencaharian sang ibu hanya berjualan di sebuah warung kecil yang barang dagangannya dibeli utang dari pasar kecil di desa. Sering kali, dagangan ibunya tidak laku, padahal barang-barang itu harus dibayarkan saat malam harinya. Muslihun selalu menyaksikan ibunya dimarahi pemilik barang yang menagih uang pembayaran karena ibunya tak kunjung bisa membayar lunas.

Muslihun bersekolah di kota, butuh ongkos yang lumayan banyak hanya untuk bisa sampai ke sekolah. Terkadang, ibunya hanya mampu memberinya ongkos untuk berangkat ke sekolah, entah untuk pulang sekolah bagaimana nantinya, Muslihun tetap berpikir setidakya ia harus berangkat ke sekolah. Sampai akhirnya, rezeki Muslihun datang, ia mendapat beasiswa golongan ekonomi lemah.

Semasa SMA, Muslihun juga berkesempatan mewakili sekolah dalam olimpiade fisika SMA/MA. Dari olimpiade itulah, ia dapat melunasi uang masuk sekolah. Setelah lulus SMA, ia tak bisa langsung berkuliah karena tak adanya biaya. Muslihun mau tak mau harus bekerja lebih dahulu. Tahun berikutnya, ia mencoba mendaftar seleksi penerimaan mahasiswa baru di Universitas Diponegoro, tak disangka namanya terpampang di pengumuman SPMB. Ia bisa berkuliah di jurusan Fisika Universitas Diponegoro.

Namun, ia juga bingung karena modalnya belum cukup untuk uang masuk kampus. Untungnya, berkat pertimbangan pihak Undip, Muslihun diperbolehkan membayar biaya awal masuk kuliah hanya Rp1 juta rupiah dahulu dan bisa mencicil sisanya. Meskipun Rp1 juta mungkin sudah terdengar amat rigan bagi orag lain, keluarga Muslihun tetap harus susah payah mendapat pinjaman uang Rp1 juta rupiah itu. Walau Muslihun juga mendapat beasiswa saat ia berkuliah di Undip, beasiswa itu hanya cukup untuk membayar SPP dan PRKP setiap semester. Muslihun sering kali dipanggil pihak rektorat karena tak kunjung melunasi uang awal masuk perkuliahan.

Muslihun akhirnya bekerja keras di sore hari dan ia juga bekerja lagi di tempat lain dari jam 10 malam sampai 6 pagi demi melunasi biaya tersebut dan juga untuk menutupi kebutuhan hidupnya yang lain. Akibatnya, ia sering mengantuk saat jam perkuliahan.

Uang Rp1.000 adalah jumlah yang paling mampu ibunya berikan untuknya saat akan berangkat kuliah. Musilihin tidak mengeluh, ia melihatnya sebagai bentuk kasih sayang yang amat besar dari ibunya. Ia tak pernah merasa iri dengan teman-temannya yang bebas membelanjakan uang mereka, ia tetap berjuang menuntut ilmu dan meraih cita-cita karena ia percaya yang terpenting adalah doa orang tua yang selalu menyertai.

Muslihun pun akhirnya lulus dan diwisuda oleh Undip. Saat acara wisuda, Muslihun tak kuasa menahan rasa bahagia yang membuncah di dadanya. Ia hampir menangis melihat kedatangan kedua orang tuanya sebab ia bisa berdiri di tempat itu berkat jerih payah yang sungguh luar biasa dan juga doa yang senantiasa mengalir dari orang tuanya.

Sukses memang pencapaian yang relatif. Kedua orang tua Muslihun telah berjuang untuk bisa mengantarkannya hingga sejauh ini, dengan berutang, dengan cacian, hingga harus menanggung malu demi pendidikannya. Sukses adalah pencapaian yang dimulai dari membalas jasa orang tua dengan membantu perekonomian mereka.

Muslihun sangat berharap ia dapat membuat orang tuanya makan tanpa perlu berutang lagi, ia berharap dapat membangun kembali rumahnya dengan tembok sehingga kedua orang tuanya tak perlu lagi kedinginan dan kebocoran di kala hujan. Ia sadar semua itu belum bisa dikatakan membalas jasa mereka. Muslihun bertekad akan membantu siswa-siswi khususnya di daerah asalnya yang ingin berkuliah namun terhalang ekonomi. Ia ingin membantu mereka meraih cita-cita agar dapat ikut serta memajukan bangsa ini.

Muslihun memotivasi mereka agar mau melajutkan sekolah hingga ke bangku kuliah karena ada banyak beasiswa yang bisa diambil untuk memenuhi biaya kuliah. Ia juga memberi tahu kalau semasa kuliah, mereka bisa bekerja part time. Muslihun sering mengantar siswa-siswa tersebut kepada Pembantu Rektor II atau bahkan Rektor Undip untuk meminta penundaan pembayaran atau untuk dapat mencicil pembayaran kuliah.

Muslihun melakukan semua itu karena ia percaya pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk bekal mereka di masa mendatang. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk bisa merasakan pendidikan ke jenjang tertinggi dan bisa meraih apa yang dicita-citakan, yang membedakan hanyalah mau atau tidaknya orang-orang dari kalangan bawah seperti Muslihun berjuang lebih keras untuk bisa sukses seperti dirinya.

Banyak siswa-siswi dari daerah yang ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah, namun kata yang selalu terdengar dari orang tua mereka dan dari mereka sendiri adalah tidak bisa membiayai kuliah. Pemikiran bahwa kuliah itu mahal sudah melekat pada pemikiran masyarakat di daerah-daerah khususnya daerah terbelakang. Pemikiran itu wajar melihat pendapatan rata-rata mereka tidak seberapa dan kadang untuk makan pun harus berutang. Melihat keberhasilan Muslihun, orang-orang di desanya mulai meminta arahan agar anakya juga bisa berkuliah. Hal itu terjadi hampir setiap tahun. Muslihun membantu memotivasi orang tua dan anaknya agar tetap mengikuti tes masuk PTN. Muslihun sangat bersyukur ketika melihat beberapa dari mereka sekarang dapat diterima di PTN dan tersenyum menikmati bangku kuliah dengan beasiswa dan kerja part time.

Muslihun menempuh pendidikan pascasarjananya di keahlian Fisika Material Magetik dan Fotonik Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan beasiswa LPDP. Pendidikan Pascasarjana dilalui Muslihun seperti kebanyakan mahasiswa pada umumnya, mengerjakan tugas, penelitian dan tesis. Namun, di samping itu sebenarnya Muslihun masih mempunyai beban pikiran, ia perlu membiayai pengobatan ayahnya yang mengalami stroke sejak sebelum ia melanjutkan kuliah S-2.

Muslihun pun menjadi penulis buku-buku fisika dan matematika di salah satu penerbit besar Indonesia untuk bisa mendapat biaya pengobatan ayahnya. Ia membagi-bagi waktunya untuk mengurus perkuliahan dan menulis buku.

Suatu hari, saat Muslihun berangkat ke Bandung untuk menyelesaikan penelitian tesisnya, ia bermimpi ayahnya meninggal, dan ternyata benar saja beberapa saat kemudian, ia mendapat telepon yang mengabarkan bahwa ayahya sudah meninggal dan ia diminta segera pulang. Muslihun bersyukur masih sempat pamit kepada bahkan sempat mencium ayahnya. Ia tak menyangka bahwa itu akan menjadi salam perpisahanya dengan sang ayah. Muslihun sangat sedih bila teringat kondisi ayahnya yang selalu berkata ingin melihatnya wisuda di Bandung.

Hari-hari pun berlalu, Muslihun akhirnya lulus dengan IPK di atas yang disyaratkan LPDP. Cita-citanya untuk merenovasi rumah sudah 90% lebih terwujud. Muslihun juga berpesan agar adik-adik pelajar selalu berjuang meraih cita-cita, jangan takut bermimpi, jangan takut untuk meraih pendidikan tinggi.

"Tataplah masa depan dan jangan minder pada keterbatasan. Karena di balik keterbatasan itulah proses kemandirian dan kedewasaan diri dibentuk," ujarnya seperti dilansir dari laman LPDP, Jumat (16/2/2018).

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini