Share

Limbah Kulit Udang untuk Luka Bakar Karya Mahasiswa Indonesia Raih Medali di Korea

Elva Mustika Rini, Okezone · Selasa 02 Januari 2018 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 28 65 1836852 limbah-kulit-udang-untuk-luka-bakar-karya-mahasiswa-indonesia-raih-medali-di-korea-9s2XTR883t.jpeg Foto: Dok UII

JAKARTA - Kiprah mahasiswa Indonesia dalam ajang internasional diperpanjang atas raihan tiga penghargaan dari tiga tim yang berbeda. Prestasi ini mereka peroleh dalam ajang Seoul International Invention Fair (SIIF) di Seoul, Korea Selatan.

Tiga penghargaan itu di antaranya, 2 bronze medal dan 1 silver medal. Silver medal berhasil dicapai Sifa Anisa Yaoma, Rahmadani Sasongko, Rizky Rizani, dan Helmi Zunan Tanuwijaya atas inovasinya dalam menciptakan telur puyuh rendah kolesterol namun kaya akan kandungan omega 3.

Uniknya, tim ini memanfaatkan limbah udang sebagai pakan puyuh agar berdampak pada telur yang dihasilkannya. Tingginya prevalensi penyakit jantung akibat kolesterol turut menjadi latar belakang dikembangkannya temuan ini.

“Harapannya telur yang kami ciptakan dapat dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat, sehingga mampu mencegah penyakit jantung,” ujar Rizky mewakili teman-temannya seperti dilansir dari laman UII, Selasa (2/1/2018).

(Baca juga: Ciptakan Alat Sensor Erupsi Gunung Api, Mahasiswa Indonesia Raih Juara di Malaysia)

Menyusul kesuksesan itu, Ulinnuha Khirza Kafalah, Muhammad Taqwaudin Mahfudz, Muhammad Wildan Jauhar, dan Nazhifah Junia memanfaatkan limbah kulit udang untuk diproses menjadi kitosan. Kitosan lalu diubah menjadi nanopartikel, dan dibubuhkan pada perban demi mempercepat penyembuhan luka bakar.

Atas temuan ini, mereka dianugerahi bronze medal yang pertama. Salah satu anggota tim, Ulin berharap, “Kedepannya kami dapat mengaplikasikan karya dan inovasi kami di kancah nasional dan internasional.”

Terakhir, kotak pendingin vaksin portable hadir menutup rentetan penghargaan. Alat ini dirangkai dengan bahan dasar baterai lithium polimer berdaya tahan relatif panjang meski ukuran tidak terlalu besar.

Diketahui, sulitnya distribusi vaksin ke area pedalaman menjadi motif diciptakannya inovasi bernama ‘PortaBox’ in. Waktu pengiriman yang dalam serta transportasi sulit sering menjadi peyebab rusaknya vaksin selama proses distribusi di dalam kotak pendingin biasa.

“Selain vaksin, alat ini juga dapat digunakan untuk membawa darah atau sampel medis lainnya. Semoga alat kami mampu menjaga suhu substansi dengan lebih lama sehingga distribusinya dapat berjalan lancar,” tutup salah satu anggota tim, Naufal.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini