Tantangan Besar Dua Mahasiswi Unpar Taklukkan Gunung di Antartika

Oris Riswan, Okezone · Senin 19 Desember 2016 19:10 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 19 65 1570384 tantangan-besar-dua-mahasiswi-unpar-taklukkan-gunung-di-antartika-m9hZ9Yog29.jpg Foto: Oris Riswan/Okezone

BANDUNG - Dua mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yaitu Fransiska Dimitri Inkiriwang (23) dan Mathilda Dwi Lestari (23) akan menaklukkan Gunung Vinson Massif di Antartika. Keduanya akan melakukan perjalanan mulai dari 20 Desember 2016 hingga 23 Januari 2017.

Pendakian itu merupakan bagian dari misi menaklukkan tujuh puncak gunung di tujuh lempengan benua dalam program The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU).

Setelah menyelesaikan pendakian di empat gunung yang tersebar di empat benua, mendaki Gunung Vinson Massif jelas tidak mudah. Sebab ada perbedaan karakter dan cara tempuh yang berbeda antara satu gunung dengan gunung lainnya.

Tantangan terbesar adalah suhu di lokasi yang tingkat dinginnya ekstrim. Sebab Antartika merupakan kawasan yang mayoritasnya berselimutkan es.

"Vinson Massif ini cukup menantang karena dia berada di Benua Antartika dan punya suhu paling dingin di dunia. Summer-nya saja suhu paling dingin di sana bisa mencapai 40 derajat celcius," kata Mathilda dalam konferensi pers di Gedung Rektorat Unpar, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, Senin (19/12/2016).

Karena kondisi suhu yang ekstrim, kedua pendaki harus memakai baju berlapis-lapis agar menjaga suhu tubuh tetap hangat. Hal itu akan jadi hambatan tersendiri karena pergerakan mereka menjadi kurang fleksibel.

Belum lagi mereka juga harus membawa ransel dan tas perbekalan yang diseret setelah diikatkan pada pinggang. Total barang bawaan pun beratnya di atas 20 kilogram.

Suhu ekstrim juga akan jadi tantangan bagi daya tahan tubuh Mathilda dan Fransiska. Apalagi kadar oksigen di sana sangat tipis karena faktor ketinggian.

Kondisi itu bisa saja menjadi pemicu tersendatnya aliran darah mereka. Agar kesehatan tidak terganggu, di sana keduanya harus banyak minum antara delapan hingga 10 liter per hari.

Proses aklimatisasi cuaca juga harus dilakukan saat berada di sana. Agar bisa menyelesaikan pendakian, keduanya harus bolak-balik dari bawah ke atas beberapa kali agar tubuh bisa menyesuaikan diri dengan suhu di sana.

"Jadi selama di sana kami tidak boleh bergerak buru-buru (agar sampai ke puncak)," jelas Mathilda.

Di luar itu, berbagai persiapan logistik juga harus terpenuhi dengan baik. Segala perbekalan disiapkan sedetail mungkin agar tidak menjadi kendala saat melakukan pendakian.

Faktor mental juga jadi penentu dalam mewujudkan misi tersebut. Tapi keduanya punya tekad besar agar bisa mewujudkan mimpi dan membuat rakyat Indonesia bangga.

"Motivasi kami dari awal, kami berangkat dengan semangat dan mimpi besar untuk mengibarkan bendera Indonesia dan mengharumkan nama wanita Indonesia," tutur Mathilda.

Harapan besarnya, Mathilda dan Fransiska ingin membuktikan bahwa perempuan bisa memiliki kemampuan luar biasa dalam urusan mendaki. Keduanya ingin menjadi inspirator bahwa perempuan bisa melakukan apapun.

Secara umum, keduanya juga ingin membangkitkan semangat generasi muda Indonesia untuk bisa berkarya dan berjuang dalam berbagai hal positif.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini