Pramuka Butuh Branding agar Dilirik

Agregasi Antara, · Jum'at 07 Oktober 2016 10:42 WIB
https: img.okezone.com content 2016 10 07 65 1508505 pramuka-butuh-branding-agar-dilirik-bAOq2W0IRd.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Gerakan Pramuka sebagaimana Keppres 238 Tahun 1961 mendapat mandat mendidik karakter kaum muda. Hal itu disampaikan Kodrat Pramudho, Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kodrat Pramudho usai menjadi pembicara pada Focuss Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Kwarnas Pramuka Satuan Komunitas (Sako) SPN di Jakarta.

"Sejak tahun 2010 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sudah mencanangkan empat fokus revitalisasi kegiatan Pramuka berupa rebranding, Pramuka untuk pengabdian, penataan organisasi, dan penguatan jaringan," ujarnya.

Dia berharap, revitalisasi Gerakan Pramuka tidak hanya berlangsung di tingkat Kwartir dan Kwarda, melainkan juga di Gugus Depan (Gudep). Ia juga menambahkan revitalisasi Gerakan Pramuka perlu melibatkan media.

FGD yang bertempat di lantai III Gedung DPP LDII, diikuti oleh ratusan Pramuka Satuan Komunitas dari berbagai daerah, seperti Banten, Bekasi, Lampung dan DKI Jakarta, menghadirkan narasumber bukan hanya dari Kwarnas, tetapi juga dari media massa.

Folber Sialagan, Pemimpin Redaksi Harian Indopos yang turut hadir sebagai narasumber dalam FGD berpesan, agar Pramuka memahami profil media masyarakat, mengukuhkan diri dengan kegiatan yang menonjol, dan menarik hati orang tua agar mendukung anak dalam kegiatan pramuka. Dengan begini Gerakan Pramuka bisa membumi alias mengena di hati masyarakat.

“Pramuka membutuhkan branding agar dilirik media. Pramuka harus tahu apa yang dibutuhkan media berdasarkan nilai berita agar kegiatannya menarik. Misalnya kegiatan Pramuka mengundang tokoh yang dekat dengan publik, memecahkan rekor MURI, dan sebagainya,” ujar Folber.

FGD yang bertempat di lantai III Gedung DPP LDII, diikuti oleh ratusan Pramuka Satuan Komunitas dari berbagai daerah, seperti Banten, Bekasi, Lampung dan DKI Jakarta, menghadirkan nara sumber bukan hanya dari Kwarnas, tetapi juga dari Mass Media.

Pewakilan DPP LDII, Edwin Samirosa berharap FGD yang diselenggarakan bisa menyimpulkan sesuatu yang bisa direkomendasikan untuk DPP LDII saat Munas VIII November 2016. Hampir setiap hari media massa menyampaikan keterlibatan generasi muda dalam kejahatan dan tindakan negatif. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015, ada 5,9 juta pemuda Indonesia terjebak penyalahgunaan narkoba.

Sementara itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik ada 700.000 kasus aborsi dalam setahun terakhir yang dilakukan oleh remaja. Hal ini menunjukan bahwa karakter positif generasi muda mulai meluntur.

Permasalahan di atas menjadi perhatian khusus. Melalui FGD yang bertemakan “Pembentukan Karakter melalui Gerakan Pramuka Berbasis Empat Fokus Utama Kwarnas” ini permasalahan tentang karakter generasi penerus ditelaah.

Selain mengajarkan karakter melalui kegiatan pengajian, LDII juga menerapkan pendidikan karakter melalui Gerakan Pramuka Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (Sako SPN). Diharapkan, Pramuka bisa menjadi estafet pelestarian karakter positif melalui nilai-nilai nasionalisme yang ditanamkan didalamnya.

Dalam pembukaan, Edwin Sumiroza Wakil Majelis Pembimbing Sako SPN menjelaskan pentingnya gerakan Pramuka. Menurutnya, anggota organisasi Pramuka merupakan terbanyak di dunia sejak didirikan pertama kali oleh Baden Powell pada tahun 1907 di Inggris.

Menurut Edwin, di Indonesia ada penegasan bahwa kegiatan pramuka berjalan dengan semestinya di sekolah. Namun karena siswa yang menjalankan kegiatan itu tidak berdasarkan keinginannya, setelah lulus sekolah kegiatan Pramuka mulai berkurang. Seiring dengan itu generasi muda mulai krisis karakter.

“Jika kita kehilangan harta benda, kita tidak kehilangan apapun, jika kita kehilangan kesehatan, kita kehilangan sesuatu. Jika kehilangan karakter kita kehilangan segalanya,” ujarnya.

Berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, semua kegiatan komunitas masyarakat bisa mendirikan Pramuka. Pada tahun 2012 LDII sudah mulai merintis Gerakan Pramuka Sako SPN yang diiringi 5 provinsi mulai dari Banten, Lampung, Jakarta serta menyusul provinsi lain dengan membuat Satuan Komunitas Daerah.

“Kita ingin anak-anak tak hanya sukses. Tetapi anak-anak memiliki karakter faqih, alim, dan berakhlaqul karimah. Hal tersebut akan sempurna jika diiringi dengan jiwa kemandirian,” ujarnya.

Meski lewat produk hukum Gerakan Pramuka sudah bisa menjangkau masyarakat luas, namun Gerakan Pramuka dirasakan masih belum membumi. Hal itu diperkuat oleh Kodrat Pramudho.

“Meski ada Gerakan Pramuka, tawuran antar pelajar, anak-anak yang merokok, dan perilaku negatif lainnya masih kerap terjadi,” ujarnya.

“Gerakan Pramuka atau kepanduan bukan hanya ada di negeri kita, tapi juga di luar negeri. Permasalahan kita sejak berdiri sampai saat ini, pembaharuan mengenai Gerakan Pramuka lambat dan tidak mampu menangkal masalah kepemudaan,” katanya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini