Share

Mahasiswa Untidar Konservasi Air Tanah untuk Lele

ant, · Senin 15 Agustus 2016 18:23 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 15 65 1464136 mahasiswa-untidar-konservasi-air-tanah-untuk-lele-tA38cumzJP.jpg Foto: Ilustrasi (Okezone)

MAGELANG - Sebanyak tiga mahasiswa Universitas Tidar Kota Magelang, Jawa Tengah, menerapkan metode konservasi air tanah untuk mengembangkan usaha pembibitan lele guna memenuhi permintaan pasar.

"Biasanya air kolam yang bau dan kotor dialirkan ke selokan. Itu dapat membuat pencemaran lingkungan. Kami mengolahnya lagi dan menjadi cadangan air, terutama saat musim kemarau," kata salah satu mahasiswa, Bayu Setiaji Muslih, Senin (15/8/2016).

Para mahasiswa Untidar Kota Magelang yang menerapkan konservasi air tanah adalah Bayu Setiaji Muslih (Fakultas Teknik), David Pamungkas (Fakultas Ekonomi), dan Hata Agung Pambudi (Fakultas Pertanian). Mereka merupakan bagian dari tim program kreativitas mahasiswa kewirausahaan (PKM-K) Untidar. Proposal kegiatannya yang berjudul ‘Budi Daya Lele Sangkuriang secara Organik dengan Metode Konservasi Air Tanah’ lolos didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) 2016.

Para mahasiswa tersebut mengembangkan usaha budi daya bibit lele di Dusun Sojomerto, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan enam kolam yang masing-masing berukuran 8 meter persegi.

"Pasokan air melimpah di daerah ini, terutama saat musim hujan, tetapi saat kemarau turun drastis, bahkan kekeringan," ujarnya.

Berdasarkan situasi lokasi budi dayanya itu, ia bersama timnya menerapkan metode konservasi air tanah untuk limbah kolam pembibitan. Ia menjelaskan, metode pembuatan sumur resapan dilakukan sebagai filter limbah kolam. Kotoran pada air kolam akan tersaring ke dalam tanah sehingga air kembali bersih dan bisa digunakan lagi.

Ia mengaku, mengembangkan pembibitan lele secara organik karena potensi pasar yang masih terbuka luas. Adapun pembibitan lele secara organik antara lain melalui penggunaan kunyit dan bawang putih sebagai pengganti bahan kimia yang dicampurkan dalam pelet.

Proses pemijahan, penetasan, hingga bibit siap dijual, ujarnya, membutuhkan waktu sekira 50 hari, sedangkan sekali panen bisa menghasilan sekira 40 ribu bibit, masing-masing berukuran kecil (2-3 sentimeter) dengan harga jual Rp55 per ekor, sedang (3-4 sentimeter) dengan harga Rp70 per ekor, dan besar (4-6 sentimeter) dengan harga Rp120 per ekor.

"Kalau dirata-rata dalam sekali panen, kami bisa memperoleh pendapatan sekira Rp2,8 juta," sebutnya.

Selama ini, hasil pembibitan lele tersebut dipasok ke pasar ikan di Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. "Tak jarang kami kewalahan memenuhi permintaan pasar, hasil panen selalu habis. Potensi pasarnya masih terbuka, kami akan mengembangkan terus usaha ini," tambahnya. (ira)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini