Siswa MI Ini Belajar di Kelas yang Dibangun Tahun 1940

Agregasi Pikiran Rakyat, · Rabu 20 Juli 2016 18:32 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 20 65 1442655 siswa-mi-ini-belajar-di-kelas-yang-dibangun-tahun-1940-8pvHCufsOg.jpg foto: PR Online

MAJALENGKA - Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cicalung, Desa Cicalung, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka sejak belasan tahun yang lalu tidak pernah di renovasi. Padahal MI Cicalung adalah satu-satunya sekolah yang ada di desa tersebut, karena Sekolah Dasar Negeri sudah puluhan tahun dihapus, dimerger dengan SD Paniis, tetangga desa.

Menurut keterangan beberapa orang guru di MI serta Kepala Desa Cicalung Ade, sekolah tersebut dibangun pada tahun 1940 oleh swadaya masyarakat desa setempat, makanya kondisi bangunan tersebut adalah bangunan tua. Bagian dinding tembok luar menggunakan batu belah sebagian dengan batu bata.

Gedung sekolah itupun baru beberapa kali diperbaiki tak heran bila kondisi bangunan bagian atapnya mulai lapuk. Terakhir perbaikan dilakukan pada tahun 2004 lalu, itupun hanya tiga ruang kelas saja, selebihnya sudah lama tidak mengalami perbaikan.

“Kalau bangunan tampak baik itu karena dipulas dengan cat, karena sebetulnya bangunan ini adalah bangunan tua yang sudah lama tidak diperbaiki,” ungkap salah seorang guru Santang Robya.

Meja dan bangku di salah satu kelas masih menggunakan bangku zaman dulu di tahun 1950-an, yang kondisinya antara meja dan bangku dipasang menjadi satu. Namun sebagian masih tampak kokoh sebagian lagi tiangnya rusak terkena rayap.

Meski demikian guru dan muri-muridnya berupaya membuat ruangan kelas menjadi nyaman, lantai tampak sangat bersih, dinding ruangan dihias dengan aneka kerajinan tangan, serta tembok dicat dengan warna yang sejuk. Di setiap sudut ruang kelas dekat meja guru ada sejumlah map plasik digantung. Setiap map berisi dokumen masing-masing murid termasuk hasil kerajinan tangan murid.

Di pagi hari sejumlah orangtua murid yang mengantar anaknya ke sekolah ikut membersihkan halaman kelas dari sampah yang berserakan yang dibuang anak-anak mereka dengan sembarangan.

Menurut guru di sekolah tersebut, Santang dan Ade Dudi, ada sebanyak 10 orang guru yang mengajar di MI, 4 guru sudah PNS dan 6 guru masih honor dengan upah sebesar Rp 200.000 per bulan. Mereka mengajar 119 orang murid.

“Bagi guru honor yang sudah menerima tunjangan sertifikasi tidak diberikan honor bulanan dari sekolah, karena dianggap sudah memiliki penghasilan dari dana sertifikasi,” kata seorang guru.

Kepala Desa Cicalung Ade mengatakan, di wilayahnya sudah hampir 20 tahun tidak ada SD Negeri, semua orang tua menyekolahkan anaknya ke MI dengan alasan agar dimasa kecil anak bisa belajar agama lebih banyak. Karena di MI pelajaran agama mencapai 10 jam per minggunya.

“Dulu pernah ada SD Inpres, namun sudah lama di merjer dengan SD yang ada di desa tetangga, karena muridnya sedikit, masyarakat lebih banyak yang menyekolahkan anaknya ke MI, selain itu jumlah anak di Desa Cicalung memang sedikit karena jumlah penduduknya juga sedikit hanya sebanyak 1432 jiwa dengan jumlah KK 480,” kata Ade.

Ade berharap sekolah dasar yang ada di desanya segera mendapat perbaikan dari pemerintah agar semua murid bisa belajar dengan nyaman.

Sedianya, menurut Ade, perbaikan sekolah akan dilakukan melalui Dana Desa ataupun Dana Alokasi Desa karena menunggu perbaikan dari pemerintah tak kunjung datang, namun ternyata aturan pemerintah tidak memperbolehkan Dana Desa ataupun ADD dipergunakan untuk sarana keagamaan atau membangun gedung sekolah.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini