Share

Pendidikan Agama Cegah Pengaruh Radikalisme ke Siswa

Iradhatie Wurinanda, · Rabu 22 Juni 2016 18:53 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 22 65 1422439 pendidikan-agama-cegah-pengaruh-radikalisme-ke-siswa-XtPQGHtiDM.jpg Ilustrasi Foto: dok. Okezone.

JAKARTA - Pendidikan agama diyakini mampu menumbuhkan nilai-nilai yang mengarah pada kehidupan damai dan berdampingan antarpenganut agama yang berbeda, khususnya di kalangan generasi muda. Sayangnya, berdasarkan penelitian terkini, 30 persen sekolah justru terpengaruh radikalisme.

Jika tidak segera diatasi, tentu radikalisme akan berdampak luas. Oleh sebab itu, Kepala Sub Direktorat Sekolah Menengah Atas Ditjen Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag), Unang Rahmat mengatakan, pendidikan agama jangan hanya berupa hafalan, tetapi juga harus menerapkan nilai-nilai. Contohnya, yakni menanamkan akhlak Rasulullah pada pendidikan agama Islam.

"Banyak kisah yang menggambarkan kelembutan hati Rasulullah, seperti sikap moderatnya, tolerannya, dan lain sebagainya. Dalam menumbuhkan nilai-nilai perdamaian tersebut, Kemenag bekerja sama dengan Australia Award. Ada 26 guru yang diberangkatkan ke sana. mereka menghasilkan modul-modul untuk kegiatan di luar kelas, termasuk untuk pembinaan rohis," tuturnya dalam diskusi pendidikan ACDP di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (22/6/2016).

Unang menjelaskan, rohis memiliki peran yang strategis. Namun, kegiatan ini beberapa dianggap menumbuhkan radikalisme terhadap siswa. Untuk itu, perlu ada pengawasan dari guru dalam setiap kegiatan rohis.

"Perkembangan rohis saat ini sangat sedemikian rupa. Bahkan, kebanyakan guru kurang peduli dengan rohis. Sehingga pada akhirnya rohis digarap oleh orang lain, bukan oleh gurunya dengan maksud-maksud tertentu," terangnya.

Salah satu upaya mengenalkan rohis yang baik kepada para siswa, imbuh dia, yakni dengan mengadakan perkemahan rohis nasional, belum lama ini. Kegiatan tersebut mengajarkan bagaimana rohis hidup di tengah-tengah keragaman.

"Kami tampilkan bagaimana keragaman nusantara dari Sabang sampai Merauke, dan rohani Islam hidup bersama-sama mereka. Para siswa akan lebih percaya diri ketika nilai-nilai agama Islam lil alamin ini diberikan. Karena banyak yang kembali pada agama, namun karena pemahamannya tidak tepat akhirnya agama yang disalahkan ketika terjadi konflik," pungkasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini