Dukungan untuk Ketua BEM UNJ Masih Mengalir

Iradhatie Wurinanda, · Kamis 07 Januari 2016 12:57 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 07 65 1282754 dukungan-untuk-ketua-bem-unj-masih-mengalir-iUU71zz5Pj.jpg Kampus UNJ. (Foto: Iradhatie W/Okezone)

JAKARTA - Pemecatan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (BEM UNJ), Ronny Setiawan saat ini sudah menemukan titik terang melalui islah dan pencabutan SK pemecatan oleh Rektor UNJ, Prof Dr Djaali. Kendati demikian, dukungan untuk Ronny masih mengalir.

Salah satunya diberikan oleh alumnus UNJ Ketua Ikatan Alumni Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ, Khatibul Umam Wiranu. Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Rektor UNJ, Prof Dr Djaali, Khatibul turut menyayangkan tindakan rektor yang sempat memecat Ronny lantaran yang sang Ketua BEM dinilai melakukan tindakan penghasutan.

"Saya sungguh terkejut membaca informasi di media massa, khususnya media sosial tentang tindakan Bapak memecat mahasiswa UNJ atas nama Rony Setiawan. Merujuk pada SK yang Bapak tandatangani, dipecat karena yang bersangkutan melakukan tindakan yang tergolong perbuatan kejahatan dan tindakan penghasutan," tulisnya, dikutip dari surat terbuka yang diterima Okezone, Kamis (7/1/2016).

Anggota DPR RI itu menjelaskan, seharusnya rektor merasa bangga karena memiliki anak didik yang mau memikirkan persoalan sosial di sekitarnya. Menurut dia, sebagai guru para pendidik, rektor seharusnya tak boleh cepat emosi dalam menghadapi mahasiswanya.

"Pak Rektor, zaman sudah berubah. Jangan membayangkan saat ini seperti waktu Bapak menyandang status mahasiswa dulu. Harusnya Bapak bangga memiliki anak didik yang mau memikirkan persoalan sosial di sekitarnya. Harusnya Bapak senang UNJ tidak kehilangan identitasnya sebagai kampus pergerakan. Sejarah IKIP dan UNJ adalah sejarah pergerakan mahasiswa," paparnya.

Khatibul menambahkan, UNJ merupakan kampus pergerakan. Selain itu, dunia kampus dan mahasiswa adalah dunia pendidikan yang mengedepankan nalar, kreativitas, dan kebebasan akademis. Sehingga, kata dia, selama kreasinya tidak mengarah pada tindakan kriminal, kampus hendaknya memberi kebebasan.

"Mahasiswa memang harus dinamis dalam berpikir, dan boleh 'liar' dalam memberi pandangan dan solusi. Jangan cepat marah dan naik darah menghadapi perilaku mereka. Apalagi Bapak sebagai gurunya para pendidik," pungkasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini