Share

Kisruh Pemecatan Ketua BEM, Rektor UNJ Matikan HP

Afriani Susanti , Okezone · Rabu 06 Januari 2016 13:25 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 06 65 1281913 kisruh-pemecatan-ketua-bem-rektor-unj-matikan-hp-Vyp3vxdvSs.jpg Foto: dok. Okezone

JAKARTA - Terhitung sejak 4 Januari, Ketua BEM Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ronny Setiawan tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa. Pasalnya, Rektor UNJ telah memecat Ronny karena dinilai telah melakukan tindak kejahatan berbasis teknologi dan penghasutan yang dapat mengganggu ketentraman dan menyampaikan surat kepada Rektor UNJ yang bernada ancaman.

Keputusan ini menuai reaksi dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Dukungan untuk Ronny pun membanjiri wajah media sosial seperti Twitter. Rata-rata netizen menilai, keputusan pemberhentian mahasiswa Pendidikan Kimia itu sebagai arogansi rektor serta membungkam demokrasi dan kebebasan berpendapat mahasiswa.

Bahkan, siang ini mahasiswa UNJ dari beragam elemen akan berkumpul di Tugu Perjuangan UNJ dalam konsolidasi akbar. Salah satu tujuannya, menuntut dicabutnya SK tersebut oleh rektor.

Upaya Okezone mencoba mengonfirmasi kekisruhan ini kepada Rektor UNJ Prof Djaali sejak pagi tadi tidak berbuah hasil. Awalnya, sang rektor sulit dihubungi. Tetapi belakangan telefon selulernya justru tidak aktif. Begitu juga dengan Ronny dan Ketua Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu Ahmad Firdaus.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada 5 Januari 2016, melalui surat dengan nomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian Sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Rektor UNJ melakukan drop out kepada Ketua BEM UNJ Ronny Setiawan. Calon guru kimia ini dipecat karena dinilai telah melakukan tindak kejahatan berbasis teknologi dan penghasutan yang dapat mengganggu ketentraman dan menyampaikan surat kepada Rektor UNJ yang bernada ancaman.

Nyatanya, Ronny menyampaikan surat permintaan audiensi mahasiswa UNJ kepada rektor untuk meminta keterangan atas berbagai masalah di kampus. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dihelat mahasiswa 29 Desember 2015, ada tujuh masalah yang diusung mahasiswa dalam audiensi tersebut yaitu rencana pemindahan FMIPA, beasiswa, pengalihan BEM jurusan menjadi BEM prodi, uang kuliah tunggal (UKT), fasilitas parkir kampus yang tidak aman, kesimpangsiuran KKN, dan kasus pelecehan seksual oleh oknum dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS).

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini