Edukasi Bahaya Rokok di Sekolah Minim

Iradhatie Wurinanda, · Kamis 17 Desember 2015 17:12 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 17 65 1269672 edukasi-bahaya-rokok-di-sekolah-minim-CnuTlKFnDl.jpg Pegawai minimarket menata rokok di rak penjualan. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Rokok memiliki banyak kandungan berbahaya. Setidaknya terdapat 7.000 zat kimia beracun dalam rokok, yang 70 di antaranya memicu penyakit kanker (karsinogen). Kendati demikian, jumlah perokok semakin meningkat, bahkan di kalangan usia remaja.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Soewarta Kosen menyampaikan, pendidikan memiliki pengaruh terhadap persepsi seseorang dalam merokok. Menurutnya, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi setidaknya mengetahui bahaya merokok sehingga bisa mengerem kebiasaan merokoknya.

"Banyak orang yang dibodohi bahwa merokok itu aman. Apalagi di kalangan remaja, mereka mudah sekali beralih pada kebiasaan merokok akibat pengaruh pertemanan dan lingkungan yang memaparkan banyak informasi bahwa merokok itu keren tanpa tahu dampak jangka panjangnya," ujarnya dalam diskusi "Pemberdayaan Pemuda untuk Generasi Kreatif Bebas Rokok" yang diadakan Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), Kamis (17/12/2015).

Berdasarkan survei CISDI di dua sekolah, SMP Negeri 113 Jakarta dan SMP Al-Izhar, ternyata edukasi mengenai bahaya merokok belum terpapar secara seluruhnya pada pelajar. Hanya 75 persen responden yang mengatakan pernah melihat dan mendapat informasi dari sekolah terkait rokok.

Kendati demikian, Kepala Dinas SMP Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Tadjudin Nur menerangkan bahwa pihaknya sudah berupaya melakukan antisipasi kepada pelajar untuk tidak merokok. Dia mengklaim, sudah memasukkan pengetahuan bahaya merokok melalui kurikulum pembelajaran.

"Di intrakurikuler secara spesifik ada di mata pelajaran olahraga dan kesehatan, sedangkan di mata pelajaran lain diintegrasikan. Bukan tak mungkin mata pelajaran bahasa Indonesia ada bacaan-bacaan tentang rokok dan kesehatan," jelasnya.

Selain itu, di luar pembelajaran setiap sekolah juga sudah memberlakukan tata tertib yang melarang siswa, guru, termasuk satpam untuk merokok di kawasan sekolah. Dalam tata tertib, ucap dia, sudah jelas sanksi yang akan diterima bila melanggar, yakni menggunakan sistem poin.

"Di Jakarta ada 289 SMP negeri dan hampir 800 SMP swasta. Jumlah sebanyak itu tentu implementasi dari peraturan ini sangat bervariasi. Terkait guru atau kepala sekolah yang merokok di sekolah tentu itu sudah harga mati bahwa itu dilarang," tukasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini