Kegiatan Sekolah Didukung Rokok, Bolehkah?

Iradhatie Wurinanda, · Kamis 17 Desember 2015 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 17 65 1269664 kegiatan-sekolah-didukung-rokok-bolehkah-nEQ6wN5oqb.jpg Ilustrasi Foto: dok. Okezone.

JAKARTA - Angka perokok aktif di usia remaja semakin bertambah. Di satu sisi, berbagai pihak, baik dari kalangan pemerintah, swasta, hingga organisasi non profit menyerukan bahaya merokok kepada pelajar. Tapi di sisi lain, beberapa kegiatan pelajar justru didukung bahkan disponsori oleh industri rokok.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Dinas SMP Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Tadjudin Nur secara tegas menyatakan bahwa kerjasama antara sekolah dan industri rokok harus dibatasi, bahkan dilarang.

"Kerjasama dengan rokok dilarang, termasuk di dalamnya menyangkut beasiswa," ujarnya dalam diskusi "Pemberdayaan Pemuda untuk Generasi Kreatif Bebas Rokok" di Jakarta, Kamis (17/12/2015).

Tadjudin mengatakan, tidak dibenarkan industri rokok memberikan beasiswa kepada peserta didik. Namun, untuk merealisasikannya memang tidak mudah karena butuh komitmen yang kuat dari sekolah dan industri rokok itu sendiri.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lily S Sulisyowati. Menurutnya, dengan adanya dukungan terhadap kegiatan pelajar di sekolah, industri rokok akan menjadi sahabat terdekat anak didik.

"Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menyatakan kegiatan yang disponsori rokok memiliki pengaruh untuk mulai merokok. Sedikitnya 7,9 persen pelajar terpapar karena ditawari rokok gratis oleh perwakilan perusahaan rokok," tuturnya.

Lily menambahkan, dalam temuan tersebut juga disebutkan, delapan persen remaja perokok kembali merokok karena mengikuti kegiatan yang disponsori oleh industri rokok.

"Sedangkan hukum yang berlaku di Indonesia kurang ditegakkan secara tegas. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 63 Tahun 2015 isinya roadmap, aspek kesehatannya tak ada. Bagaimana mau mewujudkan Indonesia bebas asap rokok kalau tidak didukung," tandasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini