Jangan Remehkan Pemuda Indonesia!

Iradhatie Wurinanda, · Senin 30 November 2015 08:32 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 30 65 1258025 jangan-remehkan-pemuda-indonesia-lydeTI7uFE.jpg Ilustrasi Foto: dok. Okezone.

JAKARTA – Sebagian penduduk di Indonesia masih mengalami ketakutan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yang sudah di depan mata. Pasalnya, dengan berjalannya MEA, maka Indonesia harus siap bersaing secara langsung dengan masyarakat dari negara ASEAN lainnya.

Menanggapi hal tersebut, Manager US ASEAN Business Council to Coordinate Small and Medium Enterprise (SME) Inititives, Mario Masaya, justru mengungkapkan rasa optimistisnya bahwa pemuda Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara di kancah ASEAN.

"Masalah ketakutan menghadapi MEA itu kan dari diri kita sendiri. Kalau kita cuma lihat dalam negeri terus memang tidak akan maju-maju. Kita harus mau melihat ke luar dan berani ke luar negeri," ujarnya pada seminar sesi pendidikan Indonesian Youth Conference (IYC) 2015, baru-baru ini.

Mario mengakui, saat ini Indonesia mengalami masalah unskilled labour. Penyebabnya, masyarakat Indonesia berpikir bahwa punya negara yang kaya dengan sumber daya alam yang berlimpah, sehingga merasa terlena dan kurang ada usaha untuk memaksimalkan potensi.

"Jadi negara kita itu kaya tapi terbelakang. Kita harus bisa ubah mindset. Singapura bisa jadi maju karena masyarakatnya sadar tidak memiliki kekayaan alam yang berlimpah sehingga mereka berusaha untuk meningkatkan kualitas di segala bidang supaya mampu bersaing dengan negara lain," tuturnya.

ASEAN-Indonesia Youth Ambassador 2010 tersebut menambahkan, jika semua masyarakat Indonesia punya mindset bahwa masih banyak kekurangan, pasti motivasi dan semangat untuk maju akan lebih besar. Dalam menghadapi MEA, lanjut dia, para generasi muda Indonesia harus secara bertahap menggunakan strategi dalam bersaing.

"Kalau langsung ingin mengalahkan Singapura tentu berat. Tapi, negara di ASEAN kan banyak, jadi kita bisa fokuskan dulu di negara lainnya, seperti Myanmar dan Vietnam," pungkasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini