Hadapi Bonus Demografi, Pemuda RI Dilarang Manja!

Marieska Harya Virdhani, Okezone · Rabu 28 Oktober 2015 15:23 WIB
https: img.okezone.com content 2015 10 28 65 1239526 hadapi-bonus-demografi-pemuda-ri-dilarang-manja-4Zq65KjsiE.jpg Job seeker memadati sebuah job fair. (Foto: dok. Okezone)

DEPOK - Indonesia akan memasuki era bonus demografi sebentar lagi. Artinya, generasi muda produktif akan sangat berlimpah. Namun jika tidak diantisipasi secara strategis, bonus demografi justru akan menjadi permasalahan kebangsaan yang serius.

Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kaderisasi Pengurus Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Rizqon Halal Syah, menjelaskan, 70 persen dari sedikitnya 250 juta penduduk Indonesia merupakan golongan usia produktif berusia 15-65 tahun. Namun, bila sumber daya manusia (SDM) Indonesia tersebut tidak tangguh, mereka akan terlibas persaingan global.

Apalagi, ujar Rizqon, Indonesia akan menghadapi dua tantangan utama dalam waktu dekat yaitu bonus demografi dan integrasi ekonomi kawasan atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Kuncinya adalah pemuda Indonesia wajib meningkatkan kapasitas SDM. Misalnya dengan pelatihan kemampuan yang siap dan mendukung untuk bersaing di pasar tenaga kerja, menjadi kekuatan besar dalam bidang kemandirian ekonomi, bela negara dan sebagainya," ujar Rizqon di Depok, Selasa (28/10/2015).

Puncak bonus demografi ini diperkirakan akan menghampiri Indonesia pada 15 tahun mendatang. Setelah itu, Indonesia pun akan mengalami penurunan jumlah angkatan kerja penduduk yang melewati usia produktif sekira 30 persen.

"Diperkirakan pada 2030 kelompok usia produktif akan menurun. Banyak negara yang sudah memanfaatkan bonus demografi untuk menjadi kekuatan SDM ataupun ekonomi hebat hari ini.

Rizqon sendiri memaparkan ide tentang berbagai tantangan bonus demografi ini dalam buku Ansor dan Tantangan Kebangsaan; Sebuah Refleksi Demografi Politik dari Social Capital Menuju Human Capital. Buku ini membahas banyak hal tentang pemuda dan peran strategisnya dalam menjaga keutuhan NKRI.

"Jika bicara tentang wawasan kebangsaan dan ideologi, bagi kami NKRI adalah harga mati," tegasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini