Pemuda Wajib Bangga Berbahasa Indonesia

Iradhatie Wurinanda, · Rabu 28 Oktober 2015 21:06 WIB
https: img.okezone.com content 2015 10 28 65 1239406 pemuda-wajib-bangga-berbahasa-indonesia-aJ8mGZMc9M.jpg Foto: dok. Okezone

JAKARTA – Salah satu isi ikrar Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 adalah, "Kami putera dan puteri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia." Artinya, bahasa Indonesia menjadi salah satu alat pemersatu para pemuda yang berasal dari berbagai daerah di Tanah Air.

Sayangnya, saat ini penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah banyak dilupakan kalangan pemuda. Bahkan, tak jarang pemuda yang lebih bangga menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa Indonesia.

"Dilihat dari pengggunaan bahasa saja, anak muda zaman sekarang banyak yang enggak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Bertanah Air dan berbangsa Indonesia, tetapi banyak perkelahian dan pertumpahan darah antarbangsa sendiri," tutur seorang mahasiswi bernama Hayyu.

Cewek berambut panjang ini mengatakan, makna Sumpah Pemuda sudah banyak dilupakan. Menurutnya, apa yang dilakukan pemuda saat ini kebanyakan sudah tidak sesuai dengan isi Sumpah Pemuda. Dia pun setuju jika pemuda Indonesia butuh revolusi mental.

"Perlu revolusi mental untuk menyiapkan diri kita dalam menghadapi perubahan-perubahan yang signifikan di era sekarang. Kalau enggak, kita bisa jadi korban dari perubahan itu sendiri," imbuhnya saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Untuk memajukan Bangsa, ucap Hayyu, dibutuhkan mental dan karakter pemuda yang kuat. Pasalnya, pemuda merupakan tulang punggung negara sehingga cita-cita Indonesia ada di tangan para pemuda.

"Sedangkan banyak pemuda yang malah mengonsumsi narkoba, balap liar, tawuran, dan lain sebagainya. Kalau pemuda zaman dulu tuh, sepertinya meski bandel tetap ada rasa peduli pada negara," terangnya.

Terlepas dari itu, mahasiswi Gunadarma itu berpendapat bahwa anak muda zaman sekarang juga banyak yang semakin pintar. "Bagusnya sih sekarang anak-anak muda sudah bisa membedakan mana yang pantas meminpin bangsa, dan mana yang enggak. Beberapa juga ada yang aktif berpendapat, meski baru melalui media sosial," tukasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini