Mengulik Nasionalisme Pemuda di Era Globalisasi

Iradhatie Wurinanda, · Rabu 28 Oktober 2015 18:45 WIB
https: img.okezone.com content 2015 10 28 65 1239396 mengulik-nasionalisme-pemuda-di-era-globalisasi-MtQ00QmrUH.jpg Diorama terkait perjuangan pemuda Indonesia mempersatukan bangsa dipajang di Museum Sumpah Pemuda. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA – Nasionalisme terhadap negara menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Indonesia saat ini. Dengan pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi, budaya asing menjadi mudah masuk, sehingga tak jarang menyebabkan hilangnya jati diri bangsa.

Seorang mahasiswi bernama Vivian mengatakan, pemuda Indonesia sekarang kurang nasionalis. Jangankan untuk membela negara, hari-hari penting yang bersejarah bagi Indonesia saja sering lupa.

"Disuruh upacara malas, akhirnya kita jadi enggak menghargai jasa pahlawan yang sudah berjuang," ucapnya saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Pendapat serupa juga disampaikan siswa SMA bernama Fadli. Menurutnya, anak muda sekarang enggak mau ribet, padahal menghargai jasa pahlawan bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana.

"Misalnya pakai batik atau kebaya waktu hari Kartini. Itu kan warisan yang harus dilestarikan," tuturnya.

Sementara mahasiswa jurusan komunikasi bernama Ridwan punya pandangan yang lebih dalam mengenai nasionalisme. Dia menuturkan, nasionalisme sendiri merupakan rasa ingin mempertahankan kedaulatan negara. Ridwan tak menampik jika menanamkan nasionalisme di kalangan pemuda yang notabenenya tidak pernah merasakan perjuangan itu sulit.

"Dulu ketika sekolah, kita wajib ikut upacara dan menghormat kepada bendera. Sekarang mungkin nasionalisme bisa dengan cara pakai batik sebagai warisan budaya. Ya cara simpel seperti itu mungkin bisa dilakukan, yang penting niat," ujarnya.

Cowok jangkung ini mengaku senang dengan budaya timur. Sayangnya, karena pengaruh globalisasi, sikap anak muda jadi terpengaruh budaya barat sehingga budaya timur mulai luntur dalam kehidupan sehari-hari.

"Bayangkan, deh, contoh budaya sederhana. Seorang anak cium tangan ke orangtua, terus orangtua membalas dengan doa yang baik kepada anaknya. So sweet banget kan negara kita itu," sebutnya.

Oleh karena itu, Ridwan berharap ke depan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda mau menjaga nama baik negara sendiri. Dia juga mengkritik media supaya membantu menyebarkan hal-hal yang positif dengan memberitakan kebaikan-kebaikan Indonesia.

"Media berperan buat nasionalisme anak Indonesia. Sebab, menjadi sarana untuk menyebarkan berita bahwa Indonesia itu negara yang makmur, jangan hanya bikin berita yang justru ngompor-ngomporin sampai menimbulkan keributan di tengah masyarakat," tandasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini