Share

Jangan Cuma Pintar di Kampus!

A. Firdaus, Okezone · Selasa 27 Oktober 2015 19:25 WIB
https: img.okezone.com content 2015 10 27 65 1238736 jangan-cuma-pintar-di-kampus-CpxeERl5Mk.jpg Nafisah dan relawan komunitas Turun Tangan dalam sebuah acara. (Foto: dok. UII)

JAKARTA - Dunia kampus penuh persaingan akademis. Mahasiswa pun berlomba-lomba segera menyelesaikan studi dengan nilai bagus, lalu cepat mendapat kerja. Tetapi, inti kuliah bukan hanya tentang menjadi yang paling pintar di kampus.

Sesuai status agen perubahan yang disematkan kepada mahasiswa, maka mereka juga harus membuka mata pada berbagai masalah sosial di sekelilingnya. Dengan aktif berkegiatan sosial, mahasiswa tidak akan menjadi pribadi yang apatis. Bonusnya, mahasiswa bisa sekaligus mengasah potensi dan soft skill.

Mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UII), Nafisah Arinilhaq, merasakan hal ini. Selain sibuk kuliah dan menjadi pengurus aktif lembaga pers mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) UII, jadwal Nafisah dipenuhi segudang aktivitas sosial di luar kampus.

Cewek asli Kota Ciamis ini aktif di Komunitas Turun Tangan yang digagas oleh Mendikbud Anies Baswedan. Dia juga menjadi relawan di kegiatan mahasiswa mengajar dengan rutin menyambangi desa-desa di lereng Merapi. Bahkan, sehari-hari Nafisah dikenal sebagai pengajar TPA di lingkungan dekat kosnya.

"Saya aktif di setidaknya tiga komunitas sosial. Semua saya jalani dengan riang, karena berbagi itu menyenangkan," ujar Nafisah, seperti dilansir laman UII, Selasa (27/10/2015).

Melalui aktivitas di kegiatan sosial, Nafisah bisa menggali pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai Islami. Jika hanya belajar di kampus, kata Nafisah, mahasiswa hanya memperoleh ilmu pengetahuan. Sedangkan di luar kampus, mahasiswa bisa meraih tambahan beragam pengalaman berharga.

"Terlebih sebagai mahasiswa muslim kita dituntut untuk cerdas dan peduli," imbuhnya.

Mahasiswi jurusan Prodi Manajemen menyebut, dia memiliki banyak wadah untuk mengaplikasikan ilmu dari kampus. Di saat yang sama, soft skill-nya, seperti kemampuan membuat perencanaan kegiatan dan komunikasi efektif, turut terasah. Keaktifan di kegiatan sosial juga mengasah empatinya terhadap lingkungan sekitar.

"Dalam mencapai tujuan-tujuan hidup, kadang kita lupa bahwa kita juga punya peran sosial bagi lingkungan sekitar. Inilah yang ingin saya bagikan kepada teman-teman," tegas Nafisah.

Aktif di luar kampus tidak menyurutkan motivasi gadis berjilbab ini dalam mencatat prestasi akademis. Bahkan, Nafisah masih mengoleksi nilai IPK di atas angka 3,9. Dia menyebut, pandai membagi waktu dan mengukur kemampuan menjadi kunci suksesnya menyeimbangkan kehidupan akademis dan kesibukan sosial.

"Selain itu, jangan lupakan kalau tujuan utama kita adalah belajar," pungkas mahasiswi angkatan 2013 tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini