Curhat Adhyaksa Dault tentang Pramuka

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Jum'at 14 Agustus 2015 17:12 WIB
https: img.okezone.com content 2015 08 14 65 1196413 curhat-adhyaksa-dault-tentang-pramuka-BEA6ODcJvP.jpg Ketua Kwarnas Pramuka Adhyaksa Dault. (Foto: Okezone)
PRAMUKA sering dilekatkan dengan citra kuno dan enggak menarik. Padahal, banyak kegiatan asyik dan penuh manfaat dari gerakan ini.

Setahun terakhir, Ketua Kwarnas Pramuka Adhyaksa Dault menggalakkan rebranding agar Pramuka tidak lagi dianggap basi. Namun, brand bukan satu-satunya masalah yang dihadapi gerakan berusia 54 tahun ini. Dalam perbincangan dengan Okezone di Taman Rekreasi Wiladaktika Cibubur, baru-baru ini, Adhyaksa pun bercerita banyak hal tentang Pramuka.

Bagi Adhyaksa, Pramuka tidaklah dapat berjalan sendiri, sesuai sifatnya sebagai gerakan. Pramuka, kata Adhyaksa, bukan organisasi politik atau organisasi masyarakat, melainkan organisasi pendidikan non formal.

"Kami dilantik oleh Presiden, SK pun jelas dari Presiden. Oleh karena itu, sekarang kami butuh dukungan penuh Presiden," ujar Adhyaksa.

Dari segi sejarah, imbuhnya, juga sudah jelas. Pataka Pramuka diserahkan dari Presiden pertama RI Soekarno kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dilanjutkan dengan Presiden Soeharto. Namun di era reformasi, Pramuka sudah mulai ditinggalkan.

"Perhatiannya kurang. Padahal ini wadah paling efektif buat pemuda Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke dari Mianga sampai Pulau Rote, semua memakai kacu yang sama, merah putih," imbuhnya.

Salah satu bentuk perhatian yang diharapkan dari pemerintah adalah dukungan bahwa Pramuka menjadi ekskul wajib di sekolah. Sebenarnya, ujar Adhyaksa, hal tersebut sudah tercantum dalam Kurikulum 2013 yang dimulai dua tahun lalu. Tetapi ketika penerapan kurikulum tersebut ditunda, berdampak pula pada kegiatan Pramuka di daerah. Ada yang diwajibkan, ada juga yang tidak.

Adhyaksa menyebut, banyak anak sekolah, termasuk siswa dari sekolahnya dulu, SMAN 3 Jakarta, hanya tahu pakaian seragam Pramuka. Mereka tidak mendapat pelajaran dan pelatihan tentang apa itu Pramuka.

"Ini yang kami butuhkan dari pemerintah. Pelatihan pembina dari kalangan guru. Tentu berikan juga insentif yang layak," tuturnya.

Mantan menpora itu juga mengeluhkan minimnya pembinaan teknis dari pemerintah. Saat ini Pramuka berada di bawah koordinasi Kemenpora. Idealnya, kata Adhyaksa, Pramuka dinaungi Kemendikbud. Menurutnya, Kemenpora bertanggung jawab membina pemuda dalam dimensi politik. Sementara kegiatan Pramuka lebih bersifat pembinaan pemuda dalam dimensi sosial.

"Secara statistik, 70 persen usia anggota Pramuka adalah 17 tahun ke bawah, tentu mereka merupakan pelajar, jadi seharusnya di bawah Kemendikbud," imbuhnya.

Soal dana, setali tiga uang. Adhyaksa bertutur, saat ini dia sedang mempersiapkan Jambore Nasional 2016. Sesuai tradisi, agenda empat tahunan ini akan menggunakan Bumi Perkemahan Cibubur. Masalahnya, ujar Adhyaksa, sudah puluhan tahun bangunan dan berbagai fasilitas di sana tidak diganti. Bahkan, fasilitas mandi cuci kakus (MCK) pun termasuk minim.

Menurut Adhyaksa, Komisi X DPR sudah menyetujui bantuan dana melalui Kemenpora. Dia pun meminta pemerintah membangun semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Namun, Kemenpora mensyaratkan perubahan status hak pakai atas 210 hektare lahan di Buperta Cibubur menjadi tanah Kemenpora. Usulan ini ditolak Adhyaksa karena dinilai berpotensi masalah di masa depan. Belum lagi, ada perbedaan penafsiran tentang bantuan dana dari DPR tadi di Kementerian Keuangan.

"Pemerintah memberikan hak pakai tanah tersebut kepada Pramuka secara tidak terbatas. Kalau berubah jadi tanah milik Kemenpora, dan lalu ada masalah, akan bagaimana nasib tanah itu nanti?" tegasnya.

Pria yang aktif membina berbagai organisasi kepemudaan itu menyebut, banyak birokrasi yang harus diluruskan guna menyelesaikan berbagai masalah internal Pramuka. Meski demikian, dia optimistis Pramuka bisa mewujudkan revolusi mental seperti yang selalu digalakkan Presiden Joko Widodo.

"Jelas ini alat paling pas untuk mencapai revolusi mental. Anggotanya saja 22 juta orang. Makanya saya mau rebranding betul dan menjadikan Pramuka sebagai kawah candradimuka pembinaan generasi muda Indonesia," pungkasnya. (tamat)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini