Share

Lulus SBMPTN 2015, Akhirnya Kerja Keras Terbayar

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Minggu 12 Juli 2015 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2015 07 12 65 1180289 lulus-sbmptn-2015-akhirnya-kerja-keras-terbayar-8hL8wdz8Fs.jpg Ilustrasi: suasana ujian SBMPTN. (Foto: dok. Okezone)
JAKARTA - Kamis, 9 Juli. Shafira Widya Paramitha gelisah. Keberadaannya di rumah justru membuatnya makin khawatir dengan hasil SBMPTN 2015 yang diikutinya.

Mitha, demikian dia biasa disapa, mengaku cemas akan hasil ujiannya mengingat dia gagal pada SNMPTN lalu. "Menunggu pengumuman SBMPTN 2015 terasa lebih deg-degan kalau dibandingkan menunggu pengumuman SNMPTN. Soalnya waktu pengumuman kan hari kerja dan saya memang lagi di rumah, jadi lebih terasa stres. Kalau waktu SNMPTN kan lagi jalan-jalan sama teman di mal," papar Mitha ketika berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Alumnus SMAN 47 Jakarta ini beruntung. Dia diterima di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) pada program studi Manajemen. "Senang, akhirnya semua usaha dan perjuangan saya terbayar," imbuhnya.

Dengan memilih Unsoed, Mitha harus siap tinggal jauh dari keluarga. Mitha mengaku tidak gentar, apalagi sudah ada kakak sepupunya menjadi mahasiswa di sana. Meski begitu, sulung dari dua bersaudara ini masih menunggu pengumuman seleksi di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Di kampus ini Mitha memilih jurusan Perbankan Syariah.

Jika diterima di UIN, kata Mitha, dia akan mengambil kesempatan tersebut dan melepas kelulusan di Unsoed. Hal ini juga sesuai dengan saran sang ibu, agar dia tidak perlu kuliah di luar kota dan jauh dari keluarga.

"Saya sih enggak masalah, karena dua pilihan di UIN ataupun di Unsoed sama-sama saya sukai," ujar gadis yang berencana bergabung dengan UKM jurnalistik, mengikuti jejak sang ibu sebagai wartawan itu.

Kecemasan serupa dirasakan Sari Ahyati, teman satu sekolah Mitha. Bahkan begitu khawatirnya, Sari baru mengecek hasil SBMPTN 2015 keesokan hari setelah diumumkan resmi pada 9 Juli.

"Takut ngeceknya, karena SNMPTN lalu gagal. Jadi takut gagal juga di SBMPTN 2015," ujar Sari.

Rasa khawatir Sari cukup beralasan. Pasalnya, dia tidak mengikuti les dan bimbingan belajar. Di rumah pun, kata Sari, dia tidak terlalu intensif belajar.

Saat SBMPTN, dia menetapkan pilihan pada Universitas Indonesia (UI). Strateginya tepat, karena Sari diterima sebagai mahasiswa jurusan Antropologi. Bungsu dari tiga bersaudara itu pun lulus seleksi beasiswa Bidikmisi.

"Saya enggak mau membebani orangtua dengan urusan biaya kuliah," imbuhnya.

Kini, gadis kelahiran 19 Februari 1997 itu sedang mempersiapkan semua berkas yang diperlukan untuk proses pendaftaran ulang pada 6 Agustus. Dia juga mempersiapkan mental untuk menjadi mahasiswa baru.

"Soalnya dalam hal belajar pasti beda. Kuliah akan jadi lebih individual daripada belajar saat di SMA," tuturnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini