Share

Pemuda dan Narkoba

Kamis 30 April 2015 12:27 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 30 65 1142438 pemuda-dan-narkoba-14Arc513WB.jpg Ghoffar Albab Maarif. (Foto: dok. pribadi)

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia." (Ir. Soekarno)

JIKA menilik sejarah, bangsa Indonesia dapat bangkit dari segala bentuk penjajahan tak lain karena jasa para pemuda. Sejarah mencatat, pada 20 Mei 1908 berdiri organisasi pergerakan pemuda bernama Budi Utomo yang dimotori oleh Dr. Soetomo. Hal tersebut menjadi tonggak lahirnya pergerakan pemuda dan menginspirasi pemuda-pemuda lain untuk bersatu menentang segala bentuk penjajahan di Indonesia. Sampai saat ini, setiap 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Namun kini peringatan tersebut hanya bersifat seremonial. Tak ada lagi yang namanya pergerakan pemuda seperti 106 tahun silam. Pemuda saat ini telah bertransformasi menjadi pemuda yang tak punya jati diri. Banyak dari mereka terjerumus ke lubang hitam. Mereka semakin dimanjakan dengan perkembangan era globalisasi yang membuatnya buta. Buta akan kebenaran.

Kata pemuda secara bahasa dalam KBBI didefinisikan sebagai seseorang yang akan menjadi pemimpin bangsa. Namun, sekarang definisi tersebut telah bergeser. Pemuda kian identik dengan hal-hal buruk, misalnya narkoba. Memang tak bisa dimungkiri, maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut dapat membahayakan keberlangsungan hidup bangsa Indonesia di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa malah semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan.

Banyaknya pemuda pecandu narkoba tersebut didasari oleh gaya hidup instan yang menjadi impian mereka tanpa memikirkan dampak buruknya ke depan. Belum lagi perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat membuat mental pemuda dimanjakan oleh berbagai fasilitas. Terkadang karena tidak adanya filter iman dan takwa, pemuda mudah terlena oleh fasilitas tersebut.

Jika kita telusuri lebih dalam, maka yang patut disalahkan adalah sistem yang sedang berjalan. Suatu sistem akan berjalan jika ada roda permainannya. Begitu juga dengan dunia narkoba yang membahayakan nasib bangsa ini. Berawal dengan sebatang rokok yang awalnya coba-coba atau karena lingkungan yang memaksanya. Berlanjut dengan pemberian cuma-cuma membuat kebiasaan merokok berlanjut. Kelompok-kelompok tersebutlah yang dimanfaatkan para bandar narkoba untuk menjalankan aksi mereka. Ketika pemuda sudah merasakan sakaw maka yang namanya penyebaran narkoba akan tetap terus mengalir deras.

Pergerakan bandar narkoba di negeri ini sangatlah cantik. Ironisnya, hal tersebut didukung oleh para aparat negara. Pemasaran narkoba dilindungi secara โ€œlatenโ€ oleh pihak pengaman negeri ini. Bahkan di kota-kota besar pasarnya sudah dibuat sedemikian baik. Orang yang bertugas sebagai pelindung negara malah menjadi penghancur negara.

Berkaca dari hal tersebut, penegakan hukumlah yang menjadi kekuatan untuk memberantas peredaran narkoba. Namun, semua tetap kembali kepada kesadaran pribadi masing-masing khususnya pemuda untuk menjauhi bahaya narkoba yang dapat mengancam nyawa, menghabiskan waktu, menyita banyak materi dan menghapuskan harapan yang telah dibangun sejak dini.

Pemuda zaman sekarang seharusnya dapat mencontoh semangat dan perjuangan pemuda zaman dulu ketika mereka berjuang mati-matian mengusir para penjajah. Sudah saatnya pemuda zaman sekarang juga berjuang mati-matian memberantas peredaran narkoba sampai ke akar-akarnya.

Pemuda pada hakikatnya adalah agen perubahan yang sudah lama didambakan oleh rakyat Indonesia. Seseorang yang selalu dielu-elukan keberadaannya sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, dengan kombinasi semangat masa lalu dan tren masa kini mari mulai langkah kecil kita dengan selalu menjauhi narkoba serta selalu memberikan sosialisasi mengenai bahaya narkoba. Semoga ke depannya benar-benar tercipta generasi bangsa yang dapat menjawab tantangan zaman dengan tindakan yang nyata. Amin.

Ghoffar Albab Maarif

Mahasiswa Jurusan Teknik Industri

Kepala Departemen PSDI MSI Ulul Ilmi Teknik Industri

Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Kampus Okezone menerima kiriman berita seputar kegiatan kampus, artikel opini, foto dan karya lainnya dari civitas akademika. Karya haruslah asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan di media lain. Kirimkan karya beserta identitas dan foto pendukung ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini