Share

Melahirkan Riset Kampus Aplikatif & Merakyat

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 31 Desember 2014 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 31 65 1086189 melahirkan-riset-kampus-aplikatif-merakyat-vEodJ3i0DU.jpg Riset perguruan tinggi harusnya aplikatif. Salah satunya adalah riset dari UGM yang menghasilkan BBM dari jelantah. (Foto: dok. UGM)

JAKARTA - Selama ini, banyak penelitian perguruan tinggi hanya menjadi menara gading, tersimpan rapi di perpustakaan. Seharusnya, kampus melahirkan riset yang aplikatif dan merakyat.

Semangat inilah, kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) M Nasir yang mendasari penggabungan dua bidang tersebut dalam Kemenristek Dikti. Riset perguruan tinggi, kata Nasir, seharusnya dapat berperan nyata dalam persoalan bangsa untuk kemajuan bangsa; tidak terhenti dalam publikasi ilmiah atau sekadar pengajuan hak kekayaan intelektual (HAKI).

"Pekerjaan berikutnya, dengan dukungan Kemenristek dan Dikti, riset-riset harus dikembangkan menjadi inovasi yang bisa dipakai masyarakat dan dunia usaha memajukan Indonesia dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan anak-anak bangsa yang ada di perguruan tinggi," kata Nasir, seperti dinukil dari laman Universitas Diponegoro (Undip), Rabu (31/12/2014).

Dalam diskusi Refleksi Akhir Tahun 2015 dengan tema "Hilirisasi dan Komersialisasi Hasil Riset Perguruan Tinggi" di kampus Undip, Nasir melihat, masalah yang sering terjadi adalah tumpang tindih antara perguruan tinggi dengan lembaga riset dan antarlembaga riset itu sendiri. Pada dasarnya, perguruan tinggi ataupun lembaga riset bisa menyelenggarakan riset dari dasar hingga terapan.

"Nantinya lembaga penelitian akan fokus pada berbagai riset yang bersifat terapan. Barangkali dengan ristek disatukan dengan pendidikan tinggi ini akan menjadi lebih baik,” kata Nasir.

Skema penelitian inovatif ini dirancang untuk mengembangkan penelitian kampus sehingga dapat dihilirisasi ke dunia industri. Dengan begitu, riset perguruan tinggi tidak hanya terhenti pada publikasi dan pengajuan HAKI semata. Bahkan, Nasir berencana membuat direktorat jenderal khusus untuk penguatan inovasi.

"Fungsi dirjen ini adalah melanjutkan penelitian inovatif sehingga hasilnya membawa manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Nasir.

Undip sendiri memiliki visi menjadi universitas riset pada 2020. Menurut Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip M. Nur, DEA, seiring usianya yang mencapai 57 tahun, Undip sudah membangun tradisi yang membuatnya sebagai salah satu perguruan tinggi yang layak diperhitungkan dan menuju kampus kelas dunia.

Di antara praktik yang dilakukan Undip meraih predikat tersebut adalah membangun berbagai pusat studi seperti Diponegoro Nasional University Hospital, ICT Center, Integrated laboratory, Center of Excellent dan Multidisiplin Research Center. Dari segi penelitian dan publikasi internasional, Undip masuk dalam enam besar di Indonesia setelah Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

"Hanya research university dan entrepreneurial university yang memiliki potensi menjadi universitas kelas dunia," imbuh Nur.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini