Share

Semoga Presiden Jokowi Bukan Tipe PHP

Rabu 24 Desember 2014 13:01 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 24 65 1083290 semoga-presiden-jokowi-bukan-tipe-php-mXsNW4eEAo.jpg Presiden Joko Widodo. (Foto: dok. Okezone)

PRESIDEN Joko Widodo atau akrab disapa "Jokowi" memang seperti selalu kangen dengan rakyatnya. Begitu pula sebaliknya, rakyat selalu kangen dengan orang nomor satu di Republik Indonesia itu. Lihat saja, belum genap tiga bulan setelah pelantikan, sudah banyak daerah yang dikunjunginya mulai yang pertama ke Sinabung hingga berapa hari lalu ke Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mungkin sangat cocok dianalogikan jika Jokowi dan rakyat adalah seperti gula dan semut. Di mana Jokowi blusukan, di situlah banyak rakyat berebut salaman. Demikian pula yang terjadi saat Jokowi ke NTT beberapa hari lalu. Tentunya dengan cara ini Jokowi membuktikan bahwa dia tidak seperti anggota dewan yang mengemis suara rakyat dan lalu melupakan mereka begitu saja.

Ketika Jokowi ke NTT, dalam hati saya bertanya, mungkin di sana ada bencana alam? Karena setahu saya, kunjungan ke Sinabung dan Banjarnegara dilakukan karena ada bencana alam.

Setelah membaca berita di berbagai media massa, dugaan saya terbantahkan. Bukan karena bencana alam, Jokowi mengunjungi NTT untuk mengikuti upacara 56 tahun provinsi tersebut. Mendengar angka ini, yang saya pikirkan adalah tua. Dan jika seorang manusia, maka dia semestinya sudah mandiri.

Ternyata di usia yang tua tersebut, NTT masih bergantung bantuan pusat. Selama 56 tahun pula seakan provinsi NTT hanya jalan di tempat. Kemiskinan dan kelaparan menjadi musuh abadi yang seakan tidak terlihat oleh pemangku kepentingan di negeri ini.

Mencari jalan keluar problematika tersebut rasanya pun menjadi tugas kita dan pemerintahan saat ini. Apalagi, beberapa bulan lalu pemerintah berkomitmen membangun NTT; mulai dari peternakan sapi. Menurut saya, ini ide berlian. Karena jika direalisasikan, maka peternak NTT tidak perlu lagi dipusingkan ke mana mereka akan menjual hasil ternaknya.

Di sisi lain, sebagai sebuah negara kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Saatnya kita menghidupi saudara sendiri ketimbang uang kita terus mengalir ke benua Kanguru untuk membeli sapi. Kita harus malu selama perut kita diisi daging sapi dari negara lain sementara di negeri sendiri, para petenak mengalami surplus karena tidak tahu kemana harus menjual sapi mereka.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mereliasasikan suatu rencana mulia ini mengingat jarak NTT ke Ibu Kota cukup jauh. Belum lagi tantangan terbesar berupa infrastruktur yang tidak memadai dan menjadi batu sandungan dalam merealisasikan program ini.

Akan tetapi jika saja negara ini serius, dan hanya ingin berdiri di atas kaki sendiri, serta bukan nasionalisme abal-abal, maka segala sesuatu yang menjadi tantangan akan diusahakan seperti menyegerakan pembangunan infrastruktur. Pasalnya, mengapa Australia yang jauh saja bisa mengekspor sapinya ke Indonesia, mengapa tidak mendatangkan sapi NTT ke Jakarta? Di sinilah pemerintah perlu bekerja keras untuk rakyatnya sendiri dan berhenti menghidupi peternak sapi di benua Kanguru.

Sebagai warga negara, kita menaruh kepercayaan kepada pemerintah untuk meralisasikan progam yang dijanjikan. Dan satu harapan saya sebagai warga negara, jangan lagi pemerintah menjadi pemberi harapan palsu (PHP) bagi rakyatnya. Ingat, yang dibutuhkan adalah realisasi, bukan janji, janji dan terus berjanji!

Eugenius Elfan Rahmadi

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)

Universitas Atmajaya Yogyakarta

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini