Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Senin 22 Desember 2014 18:08 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 22 65 1082547 mencegah-lebih-baik-daripada-mengobati-KICHtabapc.jpg Ilustrasi: dok. Okezone.

SOEKARNO, bapak proklamator kemerdekaan Indonesia menyebut pemuda sebagai agent of change. Tentu bukan tanpa alasan Beliau menyematkan julukan ini pada pemuda. Sejarah telah menunjukkan bahwa perjalanan bangsa ini tak pernah terlepas dari peran pemuda dalam menghadapi musuh kolektif bangsa. Peristiwa tumbangnya kolonialisme hingga rezim orde baru yang otoriter melibatkan pemuda sebagai salah satu aktor di dalamnya.

Kini bangsa ini berhadapan pada musuh kolektif bersama, yakni korupsi. Ya, praktik korupsi telah menjadi fenomena sistemik dan menjadi problem sosial-politik yang mengakar. Betapa banyak kerugian yang ditanggang negara sebagai dampak dari tindakan korupsi. Berbagai upaya pun dilakukan untuk memerangi musuh besar ini. Pemerintah melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan aparat penegak hukum lainnya selama ini dirasa belum benar-benar berhasil menumbangkan sang musuh, sebab langkah yang diambil hanya berupa tindakan kuratif sehingga belum membasmi sang musuh sampai ke akar-akarnya.

Memang pemberantasan korupsi tidak hanya mengharapkan peran pemerintah, melainkan semua lapisan masyarakat. Pemuda, dalam hal ini mahasiswa, sebagai salah satu lapisan masyarakat diharapkan terlibat aktif dalam pemberantasan korupsi. Pemuda sebagai agent of change memiliki posisi strategis dalam memotong regenerasi perilaku koruptif yang sudah membudaya di negeri ini.

Memang tidak mudah menjadi pemuda di Indonesia. Terkadang saat menjadi mahasiswa pemuda terlihat idealis namun saat masuk dalam sistem yang ada malah menjadi pragmatis dan menjadi bagian dari praktik-praktik korupsi. Namun penting untuk membentuk integritas mahasiswa sebagai pewaris bangsa ini. Integritas akan membentuk perilaku mahasiswa tersebut sehingga tidak mudah tergoda bila sudah menjadi bagian dalam sistem.

Pembentukan integritas tersebut ditanamkan sejak dini sebagai langkah pencegahan. Langkah awal yang dapat diambil sebagai pencegahan adalah menanamkan nilai-nilai yang dapat menggugurkan benih-benih perilaku korupsi dalam diri mahasiswa.

Mahasiswa diharapkan lebih terlibat aktif dalam usaha pencegahan melalui penanaman perilaku integritas melawan korupsi. Perilaku integritas tersebut dapat dibentuk dengan menyuburkan perilaku seperti pola hidup sederhana, kejujuran serta menghindari perilaku plagiasi.

Perilaku-perilaku di atas diharapkan membudaya. Untuk membentuk kebudayaan itu sendiri perilaku-perilaku tersebut tidak hanya menjadi slogan yang manis di mulut saja, tetapi benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku jujur seperti tidak nyontek saat ujian merupakan langkah konkrit untuk menumbuhkan benih antikorup. Selain itu pola hidup sedarhana dan tidak mendewakan materi terus dipelihara sebagai bekal mengisi pos-pos pemimpin masa depan.

Bila perilaku jujur dan hidup sederhana di atas sudah mengakar dan membudaya, tentu integritas mahasiswa sebagai agen yang akan memerangi korupsi menjadi matang, sehingga musuh besar ini pun akan tumbang karena regenerasinya terputus. Kalau KPK selama ini memerangi korupsi dengan usaha kuratif, mahasiswa sebagai pewaris bangsa terlibat dalam usaha preventif. Bukankan mencegah lebih baik daripada mengobati?

Hendrikus Kake Pandong

Mahasiswa Teknik Sipil

Universitas Atma Jaya Yogyakarta

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini