Stop "Aborsi" Kurikulum 2013

Kamis 11 Desember 2014 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 11 65 1077762 stop-aborsi-kurikulum-2013-SZjpJ9PlU0.jpg Ilustrasi: kegiatan belajar mengajar di sekolah. (Foto: dok. Okezone)

KETERBATASAN sumber daya manusia dan sarana prasarana membuat guru dan sekolah belum siap menerapkan kurikulum 2013. Di sisi lain, pemerintah menilai Kurikulum 2013 masih memiliki segunduk kelemahan seperti disparitas antara konsep kurikulum dan isi buku teks, impresi ketidaksiapan sekolah, hingga masalah teknis lainnya seperti distribusi buku yang kian tidak jelas. Setumpuk alasan klasik inilah yang menjadi bahan amunisi pemerintah sehingga dengan gagah berani menghentikan Kurikulum 2013 yang pada hakikatnya perlahan mulai menunjukkan titik terang meskipun masih dalam usia yang begitu prematur.

Pemberhentian Kurikulum 2013 yang baru saja diberlakukan pertengahan 2013 lalu barangkali dapat diibaratkan membunuh bayi yang baru lahir. Lantas apa bedanya dengan tindakan aborsi? Tentu tidak jauh berbeda. Pemerintah tampaknya telah khilaf mengaborsi Kurikulum 2013.

Kita perlu menyadari bahwa keresahan guru menghadapi perubahan kurikulum tentu menjadi hal yang sangat wajar. Wajar karena guru tidak bisa bersikap masa bodoh terhadap perubahan itu. Perubahan merupakan bagian penting dari tugas seorang guru. Ia menjadi kompas atau penunjuk arah dari semua proses pembelajaran. Ke mana para siswa akan dibawa dan diarahkan, semuanya tergantung oleh guru sebagai nakhoda kurikulum.

Kini bola panas Kurikulum 2013 terus berputar. Setumpuk kritik dan caci maki pun terus mencuat mengiringi perjalanan Kurikulum 2013. Meskipun demikian, setumpuk kekurangan dan kritik tersebut seharusnya tidak menjadi dalih-dalih imajiner pemerintah untuk memberhentikan Kurikulum 2013. Kalau sudah begini, tentu roda pendidikan nasional mengalami degradasi dan kemunduran. Seharusnya, pemerintah mesti intens melakukan pendampingan kepada guru-guru atau sekolah yang dinilai masih gagap terhadap Kurikulum 2013, bukan malah menghentikan. Sejatinya, peningkatan profesionalisme guru adalah tugas pemerintah.

Jika kita menengok orbit perjalanan pendidikan nasional, ini bukan kali pertama pemerintah melakukan perubahan kurikulum. Tentu, ini juga bukan kali pertama guru mengalami keresahan dan kekalutan akibat perubahan kurikulum. Sejak Indonesia merdeka pada 1945 hingga 2014 atau sudah sekira 69 tahun, pemerintah pusat melalui Kemendikbud sudah 11 kali melakukan pergantian kurikulum. Mulai kurikulum tahun 1947 yang disebut rencana pelajaran yang dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai, Kurikulum Rencana Pelajaran 1950, Kurikulum Rencana Pelajaran 1958, dan Kurikulum Pelajaran 1964.

Berjalan beberapa dekade, muncul kurikulum terpadu pertama di Indonesia yakni Kurikulum 1968. Setelah itu, kurikulum kembali diubah menjadi Kurikulum 1975 yang konon bertujuan membentuk manusia Indonesia untuk pembangunan nasional di berbagai bidang. Kurikulum 1975 ini muncul sebagai tuntutan Tap MPR Nomor IV/MPR/1973.

Tak berhenti sampai di situ, tahun 1984 hadir Kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (KCBSA) yang berjalan selama kurang lebih satu dekade. Berjalan beberapa tahun, kembali muncul kurikulum anyar yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Terakhir, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan tahun 2013, pemerintah kembali mengganti KTSP dengan menghadirkan Kurikulum 2013.

Hal penting yang harus ditekankan di sini, jangan sampai Kurikulum 2013 sebagai wujud penyempurnaan KTSP memiliki nasib yang sama dengan Kurikulum 1994 yang diganti tanpa evaluasi. Atau seperti Kurikulum 2004 (KBK) yang layu sebelum berkembang dan urung diberlakukan. Dua kurikulum inilah yang juga pernah menjadi korban aborsi para pengambil kebijakan. Karena itu, perubahan Kurikulum 2013 ini harus disikapi secara positif dengan mengkaji dan memahami pengembangan, penjabaran, dan penerapannya di sekolah.

Perubahan kurikulum dalam suatu sistem pendidikan adalah sebuah keharusan yang memang mesti dilakukan. Kita tahu bahwa pendidikan harus bersifat dinamis sesuai perkembangan zaman sehingga kurikulum pun sebagai jantung pendidikan mau tidak mau harus ikut berubah. Jika kurikulum tidak berubah, itu berarti kita tidak mengikuti perkembangan zaman. Artinya, kita bakal semakin katrok dan tertinggal dengan bangsa-bangsa lain.

Kini bukan saatnya mencari dan menggembar-gemborkan kelemahan Kurikulum 2013, apalagi menghentikannya. Terlepas dari bagaimanapun kurikulum yang telah dibuat, serta bagaimanapun kritik yang mencuat, hendaknya sosok seorang guru selaku panglima perang dalam menyukseskan kurikulum harus menjadi perhatian penting semua pihak. Guru menjadi juru kunci untuk menyingkap tabir pendidikan yang berkualitas. Jika guru telah memiliki kualifikasi sebagai guru profesional, tuntutan kurikulum bagaimanapun tentu akan dapat dipenuhinya. Intinya, pemberhentian Kurikulum 2013 tentu bukan solusi yang indah dan bijak, namun peningkatan kualitas dan profesionalisme guru adalah cara yang paling tepat dan rasional.

Guru profesional bak seorang chef ahli, ia dapat membuat masakan apa pun dengan rasa yang sungguh nikmat dan lezat sepanjang bahan dan peralatannya tersedia. Bahkan, seorang chef ahli juga mampu membuat masakan yang sungguh nikmat meski bahan dan peralatannya terbatas. Pola pikir inilah yang seharusnya terpatri di benak pengambil kebijakan, berupaya mencetak chef-chef pendidikan yang berkualitas sehingga dapat menelurkan peserta didik yang mampu menjawab tantangan peradaban.

Kita perlu mengakui dengan ikhlas, secara faktual pendidikan nasional kita saat ini tengah mengalami kelumpuhan dan kesemerawutan (chaos) akibat inkonsistensi pemerintah dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Karena itu, pada aspek lain juga dibutuhkan konsistensi sikap dan kebijakan pemerintah melalui konsistensi pelaksanaan kurikulum di lapangan secara terukur dengan memperhatikan berbagai standar yang ditetapkan untuk mendukung terlaksananya kurikulum secara baik. Konsistensi inilah yang diharapkan dapat memperbaiki etos kerja dan profesionalisme guru selaku ujung tombak pelaksana kurikulum.

Ady Akbar Palimbang

Mahasiswa Pendidikan Matematika

Universitas Halu Oleo Kendari

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini