Siswa Aliyah Ciptakan Charger Ponsel Sepeda

Solichan Arif, Koran SI · Rabu 26 November 2014 00:09 WIB
https: img.okezone.com content 2014 11 25 65 1070603 siswa-aliyah-ciptakan-charger-ponsel-sepeda-DvlSE9CNFN.jpg Siswa Aliyah Ciptakan Charger Ponsel Sepeda

BLITAR - Piranti itu murah dan sederhana. Hanya berupa komponen Elco, LED dan Dioda yang sudah usang. Itupun dipungut dari rongsokan charger telepon selular yang telah mati guna.

Ditautkan oleh tetesan cairan timah yang terlumerkan hawa panas solder listrik, komponen penstabil dan penghantar arus (listrik) tersebut dirangkai menjadi satu kesatuan sistem kelistrikan.

Fawaid Santoso,16 salah satu siswa jurusan IPA Madrasah Aliyah (setingkat SMA) Darul Huda, Desa Gambar, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar menghubungkan pengatur sumber energi tersebut dengan dinamo sepeda angin berkapasitas 12 volt.

Dari gerak kepala dinamo yang tergesek oleh putaran roda sepeda angin, Fawaid menciptakan perangkat charge ponsel pengganti power bank (PB).

"Semua pirantinya tidak ada yang mahal. Semuanya dari barang bekas yang sudah tidak terpakai. Tapi setidaknya bisa membunuh fungsi Power Bank (PB) yang harganya lebih mahal, "tutur Fawaid.

Harga komponen Dioda baru di toko elektronik Rp3 ribu. Begitu juga dengan Elco dan LED yang memiliki fungsi indikator, hanya bertarif tidak lebih dari Rp 5 ribu. Dari semua itu, yang paling mahal hanya dinamo sepeda.

Duduk bersimpuh di lantai keramik aula sekolah, para siswa bergerombol mengerubuti rangkaian komponen listrik. Satu siswa memegang ponsel, sedang lainya mengayuh pedal sepeda. Sementara beberapa guru lelaki memberikan arahan. Suasananya riuh. Penuh canda dan tawa.

Sepengetahuan Fawaid, dinamo baru dengan kapasitas simpan strum (listrik) 12 volt, dan daya keluar 2,5 volt seharga Rp 25 ribu. Sementara di pasar loak, kata pelajar yang gemar mengotak atik elektronika itu, cukup merogoh kocek Rp 5 ribu. "Secara keseluruhan tetap jauh lebih murah dibandingkan harga PB yang mencapai ratusan ribu, "tuturnya.

Tidak hanya ponsel dengan model colokan konvensional (tunggal), Fawaid bersama empat rekannya mampu mengembangkan charger sepeda angin untuk USB smartphone BlackBerry, Android dan Iphone.

Praktis, para siswa tidak lagi bergantung pada sumber listrik yang dialirkan dari stop kontak di dalam ruang kelas. Mereka juga tidak lagi menaruh harapan pada PB yang keawetannya kerap tidak bertahan lama.

Hanya cukup mengayuh pedal sepeda dari rumah. Listrik yang dipancarkan kumparan dinamo dan diolah dioda serta elco, dalam waktu 15 menit langsung memenuhi daya ponsel. "Jadi tidak terasa. Sampai sekolah daya ponsel sudah penuh. Sebab jarak tempuh antara rumah hingga sekolah sekitar 20 menit," jelasnya.

Gagasan mencipta charger ponsel energi dinamo sepeda angin itu berawal dari iseng dan keterbatasan. Karena tidak cukup memiliki dana untuk membeli PB, dan baterei ponselnya kerap ngedrop, munculah ide charger energi dinamo sepeda.

"Sebelum ini, saya sempat membuat untuk charger MP3. Konsepnya sama dan berhasil. Trial dan errornya dua hari. Dan kemudian langsung saya bawa presentasi di sekolah, "pungkasnya.

Kepala Sekolah Yayasan Pendidikan Darul Huda Asyharul Muttaqin mengaku bangga dengan hasil temuan anak didiknya. Sebagai tindak lanjut, lingkungan pendidikan yang memiliki jumlah anak didik 193 siswa Aliyah, 305 Tsanawiyah (setingkat SMP), dan 96 Ibtidaiyah (setingkat SD), akan membimbing untuk dilakukan penyempurnaan.

"Misalnya untuk rangkaianya diperhalus lagi, termasuk ditambah tempat khusus HP, " ujarnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini