Guru di Purwakarta Dilarang Bawa Buku

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 12 November 2014 19:34 WIB
https: img.okezone.com content 2014 11 12 65 1064667 guru-di-purwakarta-dilarang-bawa-buku-4mcmwx6hBv.jpg Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. (Foto: dok. Humas Purwakarta)

JAKARTA - Guru di Purwakarta dilarang membawa buku. Langkah ini merupakan salah satu terobosan untuk mewujudkan pendidikan sebagai peradaban.

Menurut Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, perlu ada kesatuan antara guru dan siswa yang memudahkan proses transformasi ilmu. Dia mencontohkan, guru bisa mengajar tanpa selalu mengejar target dan lebih fokus pada upaya menyampaikan ilmu agar terserap dengan baik oleh siswa.

"Guru di Purwakarta dilarang membawa buku paket ke kelas. Mereka mengajar dengan ilmu yang dimilikinya. Sehingga, rasa antara siswa dan guru terbangun," ujar Dedi, seperti dinukil dari keterangan tertulisnya kepada Okezone, Rabu (12/11/2014).

Selain itu, dalam perspektif Dedi, pendidikan yang maju adalah yang aplikatif. Artinya, siswa diberi lebih banyak praktik daripada teori. Dengan demikian, siswa mampu menjadi pribadi dengan produktivitas tinggi dan memiliki jiwa entrepreneurship.

Dedi percaya, salah satu cara membangkitkan rasa percaya diri (pede) bangsa Indonesia adalah melalui pendidikan. Khususnya, pendidikan yang mengedepankan kultur dan potensi lokal.

Berbicara dalam pembukaan sarasehan dan seminar internasional bertema Culture-Based Education, Dedi memaparkan, kultur dan potensi lokal harus mulai masuk dalam kurikulum pendidikan. Misalnya, dalam memetakan potensi dan memotivasi diri tanpa merusak lingkungan.

"Itu adalah pendidikan kearifan. Sekolah harus menggarapnya secara konkret, seperti menjadikan sekolah sebagai pusat peradaban," imbuhnya.

Dedi meyakini, dalam hal peradaban ini, Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain. Menurutnya, sejak dahulu, nenek moyang Indonesia telah membangun peradaban tersebut.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini