Koperasi Mahasiswa Bisa Topang Pasar Bebas ACFTA

Dadan Muhammad Ramdan, Okezone · Selasa 23 November 2010 06:19 WIB
https: img.okezone.com content 2010 11 23 65 395878 gwkoPODC2R.jpg Yusyus Kuswandana (Ist)

JAKARTA - Koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional memainkan peran penting dalam menghadapi pasar perdagangan bebas Asean-China.

Koperasi yang memiliki asas kekeluargaan dan kebersamaan bisa dikelola secara bersama untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Tidak terkecuali dengan koperasi mahasiswa yang bisa dikembangkan melalui program-program pelatihan dalam menyikapi tantangan pasar bebas.

“Perdagangan bebas antarnegara ASEAN-China merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan. Mari kita jadikan ACFTA sebagai peluang untuk kehidupan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang diharapkan dapat memperluas kesempatan berusaha,”  ungkap Yusyus Kuswandana, anggota Komisi VI DPR, yang dalam seminar di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, baru-baru ini.

Acara seminar ini mengangkat topik, “A Reflection Of The Asean-China Free Trade Area, yang

diselenggarakan oleh program studi pendidikan ekonomi koperasi. Dihadiri dosen dan mahasiswa dari berbagai universitas di Pulau Jawa, yakni UPI, Universitas Negeri Jakarta, Uhamka, Universitas Negeri Yoyakarta, dan beberapa universitas lainnya. 

Yusyus mengatakan, ACFTA tidak perlu dijadikan sebuah hal yang menakutkan. Akan tetapi, harus dihadapi bersama, karena Indonesia tidak mungkin lepas dari pergaulan internasional. Perdagangan bebas sudah dirintis sejak era pemerintahan Soeharto sampai Kabinet SBY. 

Menghadapi perdagangan bebas, dia menegaskan pentingnya memberdayakan koperasi  untuk menggenjot sektor UMKM di Indonesia. Pemerintah akan melakukan program pendidikan dan pelatihan terhadap anggota koperasi guna meningkatkan daya saing produk di sektor riil melalui peningkatan kemampuan koperasi, yakni kebersamaan bagi seluruh anggota.

“Saya optimistis bahwa gerakan koperasi sangat potensial dijadikan salah satu solusi menghadapi ACFTA. Apalagi jika anggota koperasi bisa memenuhi syarat meningkatkan produktivitasnya diiringi peningkatan kapasitas SDM,” kata Yusyus.

Hingga saat ini, kata Yusyus, jumlah koperasi di Indonesia mencapai 150.000 unit. Namun 40 persennya masih bermasalah. Berbeda dengan Jepang, hanya dengan 800 unit koperasi tapi bisa maksimal dalam pemberdayaan masyarakat.

Dia mengingatkan, bahwa pemberdayaan koperasi tidak hanya tugas Kementerian Koperasi dan UKM. Kementerian ini sifatnya koordinatif yang hanya memiliki anggaran sebesar Rp900 miliar dan sudah termasuk Dekopin. Karena itu, dia berharap anggaran untuk Kementerian Koperasi perlu ditambah untuk mencapai jumlah yang ideal. “Padahal pada waktu era Menteri Suryadharma Ali anggaran kementerian ini pernah mencapai Rp1,5 triliun,“ ungkapnya. 

Yusyus menambahkan, program pemberdayaan masyarakat terdapat di beberapa kementerian, yakni Kementerian Pertanian, Perikanan dan kelautan, Kehutanan, Diknas dan Budaya dan pariwisata. Karena itu, pelaku UMKM bisa membuka akses untuk kementerian lainnya. 

Untuk itu, dalam mengantisipasi ACFTA pemerintah Indonesia mengharuskan produk-produk memakai embling Aku cinta Indonesia. Pemerintah sekarang betul-betul optimal dalam mengantisipasi ACFTA.

Pemerintah juga sudah melakukan hal-hal antisipasi untuk pengamanan pasar domestik. Termasuk menggalakkan penggunaan produk dalam negeri. “Pemerintah pusat, Gubernur, Bupati dan Kadin, terus mensosialisasikan bahwa penggunaan proyek APBN, APBD, BUMN lebih mengutamakan produk-produk dalam negeri,” ujarnya.

Di samping itu, pemerintah sedang mengupayakan kemudahan-kemudahan yang berkaitan dengan perbankan untuk para pengusaha ekonomi mikro.Selain itu, juga meneliti barang-barang yang masuk ke Indonesia dari luar negeri.

Yang menggebirakan, kata Yusyus, China berjanji apabila terjadi ketidakseimbangan antara perdagangan Asean-China, mereka akan membantu total untuk melakukan impor barang termasuk dari Indonesia. Selain itu, pemerintah China akan membantu para pelaku ekonomi mikro, termasuk revitalisasi mesin-mesin tekstil dan infrastruktur pertanian.

Begitu juga untuk pengembangan koperasi mahasiswa, hendaknya membuat program-program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat dengan mengadakan pelatihan-pelatihan.  Program ini disampaikan kepada kementerian dan menunjuk dinas koperasi provinsi untuk membantu program koperasi ini. Koperasi adalah pintu untuk mengembangkan kegotongroyongan, pemberdayaan masyarakat.

"Kita harus siap membangun budaya sportivitas berdemokrasi, berpolitik, sportivitas membangun

kebangganan produk Indonesia dengan program Aku Cinta Indonesia. “Kami ini pakai batik pekalongan, sepatu saya produk Cibaduyut. Sekarang ini penuh melakukan sosialisasi,” katanya.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini