Sementara itu, Luluk Mardiana salah satu karyawan mengatakan dirinya sudah bekerja selama satu tahun menjadi pembelah rotan dengan penghasilan perminggu mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu, dan bisa membantu untuk keperluan keluarga.
Supangat pun menceritakan yang mempunyai keahlian membuat alat spliting rotan dari otodidak, sejak usia muda bapak memiliki berbagai keahlian seperti bidang elekronik hingga bengkel peralatan berat maupun sepeda motor. Bahkan sempat mendirikan service sepeda motor di Desa Utara Sungai Brantas ini.
“Akhirnya pada tahun 2018 lalu ada tawaran untuk menjadi mitra pabrik maubel di gresik untuk menjadi pihak ketiga, memasok kulit rotan untuk dibuat meubel,” bebernya.
Dengan berbagai peralatan bengkelnya, akhirnya Supangat bisa menciptakan alat pembelah rotan dan usahanya berjalan hingga sekarang ini, dengan alat cipatakan sendiri jika pun ada kerusakan pada alat spliting rotan bisa langsung ditangani sendiri tanpa harus memanggil tukang service.
(Awaludin)